Menjadi Penyintas Covid-19
| Wahyu Saefudin |
Sabtu,
28 November 2020 kemarin, hasil polymerase chain reaction test (Tes
PCR) dengan metode real time, yang saya lakukan di Dinas Kesehatan Kalbar
keluar. PCR adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan
material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR juga digunakan
untuk mendiagnosis penyakit COVID-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik
virus Corona.
Prosedur
pemeriksaan diawali dengan pengambilan sampel dahak, lendir, atau cairan dari nasofaring
(bagian antara hidung dan tenggorokan), orofaring (bagian antara
mulut dan tenggorokan), atau paru-paru pasien yang diduga terinfeksi virus
Corona. Saya sendiri diambil sampel dahaknya melalui lubang hidung. Pertama di
sebelah kanan, sejurus kemudian pindah ke sebelah kiri. Pengambilan sampel
dahak ini prosedurnya memakan waktu sekitar 15 detik dan tidak menimbulkan rasa
sakit. Tapi, dapat mengeluarkan air mati.
Dari
hasil tes tersebut, saya positif, meskipun tidak ada satu gejala pun yang saya
rasakan. Dalam kasus seperti ini, saya masuk dalam kategori orang tanpa gejala
atau OTG. Meskipun cukup kaget, karena saya merasa baik-baik saja. Tapi, tidak sepenuhnya
demikian, karena memang saya mempunyai kontak erat dengan rekan kantor yang
terlebih dahulu mendapatkan hasil positif. Apabila menggunakan skala 1-10, score
kekagetan saya di angka 6.
Kaget
itu sendiri berimplikasi pada keadaan stres. Bagaimana tidak, pandemic saja
sudah menjadi stressor (penyebab stress) karena berbagai macam berita yang
dikonsumsi. Kali ini saya harus melakukan strategi coping yang baru. Pada
tingkat yang berbeda, karena menjadi salah satu orang yang terinfeksi Covid-19.
Saya
kembali mengingat-ingat nasihat Anthony de Mello, seorang spiritualis dan
psikoterapis kelahiran India 1931, yang dalam ceritanya Ia menulis.
Wabah sedang menuju
Damaskus, dan melewati seorang Kafilah di padang gurun.
"Mau
ke mana kau, Wabah?" tanya Kafilah.
"Mau
ke Damaskus, mau merenggut 1000 nyawa".
Sekembalinya
dari Damaskus, Si Wabah bertemu lagi dengan Kafilah itu, "hai Wabah, kau
merenggut 50.000 nyawa, bukan 1000, seperti katamu," protes Kafilah.
"Tidak",
kata Wabah, "saya benar ambil 1000 nyawa, sisanya mati karena ketakutan".
Apa
yang disampaikan oleh Anthony adalah nasihat yang paling tepat untuk realitas
yang sedang saya hadapi. Tidak bisa dipungkiri, menjadi penderita (?) Covid-19
ini membuat kondisi psikologis sedikit tidak stabil. Tentu ini hal yang wajar
sebagai seorang individu. Hanya saja saya yakin dapat melewati semua ini,
dengan keyakinan itu, saya mencari cara untuk bisa menghadapi kondisi ini
dengan tenang agar imunitas dan imanitas tetap terjaga.
Resiliensi (Ketangguhan)
Untuk
meminimalkan kondisi stres yang saya alami karena terinfeksi Covid-19, maka
saya harus menjadi tangguh. Menjadi tangguh dalam kondisi seperti ini dapat
menurunkan tingkat stres berkepanjangan. Menjadi tangguh dan mampu beradaptasi
di tengah kondisi sulit (krisis) hingga bisa pulih dikenal dengan resiliensi.
Menjadi
tangguh di sini tidak berarti seorang individu terbebas dari tekanan maupun
stres. Menjadi tangguh berarti seorang individu mampu mengelola tekanan-tekanan
dengan cara yang tepat dan efektif. Ketika seorang individu sudah mampu untuk
menjadi pribadi yang resilien, maka dia dapat menjadi agen untuk menciptakan keluarga yang resilien.
Keluarga,
sebagaimana yang saya rasakan, mempunyai peranan penting dalam hal peningkatan
optimisme dan penurunan stres. Di samping, peer (teman sebaya), dan
beragam informasi positif yang dapat diakses. Menanyakan kabar secara rutin
kepada penderita Covid-19 dapat meringankan kecemasan yang sedang dihadapi,
membuatnya yakin dapat melewati kondisi krisis, dan mempunyai kepercayaan diri
bahwa terdapat lingkungan yang menganggap keberadaannya.
Di
sinilah peran kita, keluarga, dan lingkungan untuk menciptakan ketangguhan bisa
dijalankan. Adanya salah satu individu yang resilien dapat menguatkan individu
lain yang sedang terinfeksi Covid-19, sehingga secara keseluruhan akan menjadi
tangguh. Terlebih saat ini, sudah tidak ada lagi kesulitan untuk tetap
bersosialisasi. Meskipun terdapat jarak fisik, tapi tidak dengan kepedulian dan
kedekatan-kedekatan lainnya. Gawai yang kita miliki sudah bisa melipat jarak
yang ada.
Setidaknya
ada 6 (enam) langkah untuk bisa menguatkan ketangguhan sebagaimana dijelaskan
oleh Kalil (2003), yaitu Menguatkan kohesivitas keluarga; Menguatkan keyakinan
keluarga; Menguatkan faktor religi; Menguatkan strategi koping dan adaptasi; Menguatkan
komunikasi; dan Menguatkan pengasuhan yang positif.
Menguatkan
kohesivitas keluarga dapat dibentuk dengan upaya saling dukung, saling peduli,
dan kerjasama. Sebagai contoh sederhana adalah adanya pembagian tugas di rumah,
seperti mencuci, memasak, membersihkan rumah, memandikan anak, dst. Selain itu
juga dengan menanyakan kabar terkini melalui berbagai aplikasi yang memudahkan
di gawai kita.
Individu
dapat terlibat untuk saling mengingatkan dalam memaknai setiap hal dengan
positif. Bahwa akan ada makna setelah kejadian ini, segala sesuatunya akan ada
kebaikan di dunia ini. Memperbanyak ibadah dapat mendekatkan diri pada Tuhan
Yang Maha Esa.
Sebagai penutup, saya yakin tidak ada orang yang mau terinfeksi Covid-19. Hanya saja, sekarang saya dan anda sudah menderitanya. Dalam sebuah film, katanya, tidak ada orang yang mati karena tenggelam, melainkan, Ia tidak berusaha untuk kembali naik ke permukaan. Ini adalah hari ke-4 saya melakukan isolasi Mandiri. Dan bagi orang lain yang sama-sama menjadi penyintas, mungkin sudah hari kesekian. Semoga kita semua bisa kembali pulih.
*Artikel ini telah diterbitkan oleh Koran Harian Pontianak Post pada tanggal 3 Desember 2020
*Oleh: Wahyu Saefudin
(Penyintas Covid-19/Ketua Kompartemen Keanggotaan dan Keorganisasian HIMPSI Kalbar)
Komentar