Heri, Sebenarnya (Nggak) Pelupa
Berharap Heri tidak
lupaan, seperti berharap nyamuk yang sudah berevolusi jutaan tahun silam itu
tidak lagi menghisap darah untuk bertahan hidup, melainkan mengganti sayapnya
menjadi panel surya.
Tapi, itu bukanlah
sebuah dosa besar, lupa dalam hemat saya selalu melekat pada pribadi yang
penyayang dan dekat dengan keluarga. Itu setidaknya hasil penelitian mendalam atau
kata Pak Husni in deep research terhadap
dua orang sampel, ya salah satunya Heri, salah duanya Mas Roni, kan kualitatif
dua juga sudah sah. Meskipun sulit untuk di generalisasi, dan nggak tahu
reliabel atau validnya di mana. Bukankah, konsistensi (reliabel) adalah ketidakkonsistenan
itu sendiri?
Hipotesis yang saya
ajukan adalah seperti ini, Hubungan Suami
yang Sering Lupa dengan Kepuasan dan Kelekatan dalam Rumah Tangga. Hasilnya
sungguh di luar dugaan. Ya, artinya tidak ada hasil yang bisa diduga.
Dalam, buku Sapiens,
buku yang masuk daftar buku yang wajib dibaca itu, Harari menuliskan, secara biologis laki-laki
dua kali lebih rentan terhadap virus ketimbang perempuan. Kemampuan perempuan
juga lebih hebat dalam berkomunikasi. Hanya saja tersandera ketika mereka menikah,
mengandung, dan melahirkan.
Soal kemampuan komunikasi
perempuan juga sudah ditulis dengan bagus oleh John Gray lewat buku Men are From Mars, Women are from Venus,
perempuan itu menghabiskan 20.000 kata sehari, dan laki-laki hanya 7.000 kata. Jadi,
wajar lah ya, kalau kaum Ibu suka ngobrol-ngobrol (gosip). Yang nggak wajar
kalau laki-laki juga suka.
Artinya apa dua paragraf
di atas? Suami yang pelupa adalah suami yang memberikan kesempatan pada
istrinya untuk paling tidak mengunggulinya dan melengkapi kekurangan (kelebihan?)
itu. Maka, istri akan merasa bermakna. Fitrah menghabiskan kata-katanya tersalurkan. Bukankah tipe suami seperti itu sudah langka
sekarang?
Seringkali kebermaknaan
itu hadir saat keberadaan kita bermanfaat untuk orang lain. Suami yang pelupa
tahu itu. Istri butuh aktualisasi diri, dan suami-suami yang baik ini
memberikan ruang untuk itu!
Maka wajar, jika
kelekatan pasangan dari suami yang pelupa akan lebih tinggi.
Dan, dari analisis saya, Heri sebenarnya nggak pelupa, dia hanya berpura-pura menjadi pelupa. Agar kelekatan dengan istrinya semakin teruji. Hanya saja, terkadang, kepura-puraan yang terlalu lama, akan menjadi sebuah kebiasaan. Hingga pada level dia lupa bahwa dia sedang pura-pura lupa. Maka, itulah yang sedang terjadi sekarang.
Baik, lanjut pembahasannya
tentang Heri, atau yang biasa dipanggil Heru. Karena namanya sama dengan nama
Kepala Kantor kami.
Kok rasanya berat
ketika hendak menulis salah satu rekan kerja saya, yang itu, yang anak vokasi,
eh sudah lanjut lagi jadi S-1 di Hukum UGM. Yang punya sertifikasi Pejabat
Pembuat Komitmen. Yang integritasnya tidak diragukan lagi, menurut saya. Tentu
subjektif, ceritanya dia pernah menolak tawaran mobil hanya untuk memuluskan
salah satu proyek. Dan ya, dia menolak. Terkadang kita sulit
membedakan integritas dan …… itulah pokoknya. Tidak etis untuk disebutkan.
Heri, enam tahun di Jogja, setelah
setahun menekuni Teknik Sipil di UNY, Ia mendapat wangsit, untuk pindah ke
kampus yang jaraknya hanya sepelemparan batu akik itu. UGM. Kata wangsit itu,
wetonnya Heri, yang lahir 17 Suro 1923, Kamis Wage. Cocok kerja di bidang yang
ada kaitannya dengan Hukum. Jadilah, Ia mendaftar di DIII Hukum, UGM. Yang kemudian
melanjutkan ke S-1. Itu hanya
cerita belaka.
Ada banyak kesamaan saya dengan Heri, termasuk ketidaksamaannya. Itulah yang
barangkali membuat saya menjadi sedikit banyak paham dengannya. Heri makan nasi dan saya juga, Ia sudah
menikah dan saya juga, Ia bukan berasal dari Pontianak dan saya juga, Ia pernah
hidup lama di Jogja dan saya juga. Dan yang paling luar biasa dari titik
pertemuan persamaan kami adalah Ia penggemar one piece, itu loh komik terlaris di Jepang yang dibuat oleh
Eiichiro Oda. Saya juga, sudah mengikutinya sejak kelas 4 SD malah.
Soal pekerjaan,
Heri ini termasuk yang paling menguasai soal aturan main. Undang-undang, Peraturan Menteri, Keputusan Dirjen, Surat
Edaran Dirjen. Bahkan Keputusan Menteri Kehakimanpun, yang ada sebelum dia
lahir, dia hapal. Dia lebih suncang dari pada orang suncang itu sendiri.
Suncang itu yang kerjaannya nyusun undang-undang.
Maka, keputusannya untuk mengikuti weton itu sudah tepat. Bisa dikatakan
sebagai titik balik dalam kehidupannya. Reborn
kalau istilah warkop.
Terakhir, ketika saya mengobrol, empat mata, di ruangannya dia bilang, “Pak,
aku kayaknya cocoknya di struktural deh,” katanya serius.
“Kalau kulihat-lihat sih gitu, Her,” jawabku, serius. “Dan kamu bisa
mulai dari jabatan Kasubsi. Kasubsi BKA dan BKD digabung gitu. Jadinya Kasubsi
BKAD” Lanjutku.
“Asyem, maksudnya apa, Pak?”
“Ya, itu panggilan jiwamu selanjutnya mungkin.”
Heri nampak diam dan merenungkan. Terus kutinggal pergi. Saya yakin
karirnya akan cemerlang ketika menjabat menjadi Kasubsi BKAD nanti. Semoga.

Komentar