Relativitas Kesuksesan



Sabtu lalu, 18 April 2020, saya melakukan sebuah wawancara beasiswa. Itu adalah beasiswa yang diberikan oleh pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat. Saya mendapatkan nomor urut 148 untuk tujuan pemberangkatan yang sama, Malaysia.

Wawancara itu berlangsung singkat, tidak lebih dari 20 menit. Ada dua pewawancara. Semuanya dilakukan menggunakan bahas inggris. Dan menggunakan aplikasi whatsapp video call.

Salah satu pewawancara, saya mengenali sebagai Direktur program beasiswa tersebut (?). Karena saya pernah melihat wajahnya dalam booklet beasiswa yang berulang kali saya baca itu. Satunya lagi, (nampak) akademisi. Barangkali seorang dosen di Universitas Mataram. Itu dari hasil observasi saya karena melihat tumpukan buku bacaan di balik punggungnya.

Ada beberapa pertanyaan yang sudah saya siapkan sekaligus jawabannya, hanya saja tidak ditanyakan. Sehingga saya menuliskannya di sini. Padahal ini adalah pertanyaan yang ketika saya menuliskan jawabannya memakan waktu lebih lama dari pertanyaan lain. Tidak lain karena saya meyakinkan diri, dengan jawaban yang dibuat.

Saya membacanya berulang-ulang, apakah memang benar demikian gambaran diri saya sendiri?

Pertanyaannya adalah : What is the biggest success in your life?

Ini pertanyaan yang menurut saya sulit, bagaimanapun dalam wawancara saya harus jujur pada diri saya sendiri. Maka saya menjawabnya dengan apa yang saya rasakan.

First, The only reason why people want to succeed is because they want to feel the effects of happiness in themselves. Therefore, to always be happy I believe all success is the same. all success has the same happiness effect.

Second, I must explain what is the definition of success for myself. I think success is when I can complete my duty so that others feel the benefit. It can be concluded that any simple thing is success for me, every time I finish my research, every time I finish in a seminar, every time my writing is published in a newspaper, every time I publish a book, it is a success.    

Saya tidak meyakini sebuah ukuran dalam kesuksesan. Karena saya terlalu takut untuk menggantungkan diri pada kebahagiaan yang sulit diraih. Sehingga, hal apapun yang berhasil dilakukan adalah sebuah kesuksesan. Seperti halnya berhasil mencuci pakaian, dapat berangkat kerja tanpa terlambat, menyelesaikan bacaan sebuah buku, berhasil berlari menempuh jarak sekian, lolos sampai tahap wawancara, dst.

Itu adalah kesuksesan yang kemudian menimbulkan efek kebahagiaan yang sama. Tentu dengan satu syarat: menyamaratakan definisi tentang sukses itu sendiri.

Nah, jika kemudian orang lain mempunyai standar kesuksesan yang berbeda, itulah yang disebut relativitas. Tidak ada yang sama. Ketidaksamaan ini juga bukan sebuah persoalan, karena kembali kepada masing-masing individu itu sendiri. Biasanya hal ini kembali pada pengalaman individu itu sendiri.

Jadi, kacamata kesuksesan saya tidak akan berlaku pada ukuran pencapaian orang lain.  

Tentu ini semua untuk mengukur individu, tidak bisa disamakan apabila kita bekerja dalam sebuah tim. Artinya, ukuran kesuksesan sudah disepakati bersama. Sehingga, keberhasilan dan kegagalan dapat dilihat dalam kacamata yang sama.

Akhirnya, ketika tulisan ini selesai, saya juga merasakan sebuah kesuksesan. Nanti, jika Himada sudah bisa membaca dan memahami akan saya berikan tulisan ini padanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Heri, Sebenarnya (Nggak) Pelupa

Hutan Ilusif: Gawai

Pengalaman Tes CAT Kemenkumham