Fanser : (Sang Pangeran?)
Episode 1 : Fanser
Awalnya saya berpikir bahwa di
dalam Bapas terdapat Napi anak. Namun keliru, Napi adanya ya di Lapas atau
Rutan. Oya, sekarang penyebutannya warga binaan.
Instansi semacam apa Bapas itu,
tak pernah terlintas dalam benak saya. Karena memang saya, keluarga, dan
keluarganya keluarga saya memang tidak pernah berurusan dengan Bapas. Bahkan
saya pertama kali mendengar Bapas ketika menjalani Tes Kompetensi Bidang.
Di Bapas banyak sekali pelajaran.
Saya beranggapan bahwa saya berada di dunia berbeda ketika bekerja. Alasannya
adalah karena berbagai permasalahan berada di sana. Terkait dengan kehidupan
masyarakat tentu saja.
Nah, Bapas itu sebenernya
ngurusin anak-anak yang tersandung kasus hukum, sebutan kerennya ABH. Anak
sendiri untuk yang berumur di bawah 18 tahun. Dan kasus yang ditangani apabila
masa hukuman di bawah 7 (tujuh) tahun. Kalau 7 (tujuh) tahun? Kagak!
Selain itu juga ngurusin Warga
Binaan yang mau bebas, baik bersyarat atau cuti menjelang bebas. Kapan-kapan
dijelasin, biar ditulis sama yang ahli hukum.
Berbicara tentang Bapas berari
berkaca tentang kesadaran sebagai manusia. Bahwa ternyata kehidupan tidak
sedamai yang kita rasa. Tidak seteratur seperti yang dilihat. Tidak seharmonis
seperti yang diberita. Di Bapas isinya ya masalah, dari A-Z, dari Z ke A lagi.
Ya begitu.
Setidaknya saya merasa harus
bersyukur, karena orang-orang yang saya kenal tidak harus sampai mengenal
Bapas.
Di Bapas Sendiri meskipun
kelihatannya sangar karena berseragam tetap aja isinya ya manusia-manusia yang
menyenangkan. Ada banyak sekali yang bisa ditertawakan, karena bukankah
kehidupan harus ditertawakan?
Sekarang saya ingin bercerita
tentang kawan saya, sebut saja Fanser (Bukan nama samaran). Tentu episode
selanjutnya akan saya ceritakan kawan-kawan yang lain.
Fanser adalah sejenis manusia Indonesia
yang khas sekali keindonesiaannya. Maksudnya? Kulit sawo matang, tinggi badan
maksimal 165 (mungkin lebih dikit atau nggak sampai segitu), badan… mmm ya gitu
lah, mungkin ideal andai berkurang 5-10 kg, alay tapi masih batas yang sesuai dengan
norma masyarakat sih.
Fanser itu unik, (untuk tidak
menyebutnya apa yah…), lahir 1992 masa pensiun masih panjang, kemungkinan
sampai golongan 4 (empat) lah, kalau engga dipecat di tengah jalan. Kenapa kok
saya pengin cerita fanser duluan?
Pertama, duduknya sebelahan udah
sekitar empat hari kayaknya. Saya tahu perish mengapa harus pindah ke deretan
kursi saya. Ianya teroesir (Ingat
tenggelamnya kapal Vanderwijck? Karya Hamka) sehari-hari seperti itu dia,
dramatis. Oya, dia terusir dari meja yang sudah di siapkan dan dipasangin
berbagai pernak-pernik yang ciamik, namun naas karena senior lebih mengharap
sosok lain berada di meja ybs.
Tragis memang.
Kedua, karena saya selalu
membuly-nya. Sebenarnya bukan selalu sih, tapi intens aja. Jadi meskipun nggak
niat, tapi kalau ketemu pokoknya ada aja hasrat untuk membuly.
Ketiga, Pengin aja!
***
Oke, kembali ke Fanser. Fanser
biasa dipanggil pangeran, oleh Meta dan Mbak Putri. Entah Apa alasanya, kalau
analisisku mungkin mirip Pangeran Firaun. Tampilannya klimis, pakaian selalu
disetrika dan slimfit, jadi kelihatan
kalau threepack. Sepatunya baru, merk
Prodeo.
Kebiasaan lainnya yang berbeda
dari kebanyakan masyarakat, ia suka memfoto dirinya sendiri dan memposting
dalam group. Meski awalnya saya (untuk tidak menyebut kami) syok, akhirnya ya
memaklumi. Biar bagaimanapun dia kawan kami.
Gaya berbicaranya paling berbeda
dengan yang lain, mirip cinta laura, pas nyebut ngga ada ojek, becek.. nah bayangin kalau yang bilang gitu cowok. Ya
seperti itulah yang kami hadapi setiap hari.
“Fanser adalah Paradox” kata mas Roni, satu-satunya pendekar di
Bapas. Bagi saya ia bukan hanya Paradox, tapi Panadol dan Parameks.
Saya yakin suatu saat kami semua
ber 18 akan terpisahkan, maka dicatatan ini saya akan berusaha mengingatnya dan
menjadikannya abadi. Seperti kata Chairil Anwar. Tentu saja mengingat yang
buruk, karena mengingat yang baik adalah tugas orang lain!!!
Komentar