Teguh yang Saya Kenal
![]() |
| Teguh Oktorio Pratama |
Teguh yang pensiunnya masih 35 tahun lagi itu, yang uang pensiunnya nanti menurut Taspen Mobile sekitar 120 jutaan, akan bekerja di Sambas sana, kampung halamannya. Malam ini saya mengajaknya berfoto. Tentu, akan saya posting dalam IG. "Saya tunggu Pak", katanya. Maka, untuk membuatnya tidak terlampau kecewa, saya menuliskannya panjang.
Teguh, namanya. Oktorio Pratama, lengkapnya. Kalau saya artikan secara harfiah berarti anak Laki-laki pertama? Atau anak pertama yang laki-laki? Yang (Insya Allah) tidak plenda-plendo yang lahir di bulan Oktober.
2 tahun lalu, tidak kurang, menurut pemberitahuan Facebook. Saya sudah mengenalnya. Menurut saya, dia pemuda yang visioner dengan pemikiran terbuka, dan keberuntungan yang merajalela.
Tentu ada alasannya. Tapi, itu nanti dulu. Saya akan bercerita tentang paradoks kehidupan.
Teguh, barangkali adalah pemuda anak-anak? Yang disukai banyak talenta. Mulai dari olahraga, seni, keuletan, pekerjaan sehari-hari, hingga mengendus durian.
Pertama soal olahraga, Ia piawai bermain bola yang di sepak dengan kaki, yang dipukul dengan tangan, dan yang harus pake alat (ping pong). Semuanya bisa, soal seni, dia pandai bermain alat musik, dari gitar, drum, kecrek, dan barangkali seruling bambu.
Saya haqqul yakin, Teguh pergi maka kancing baju Mas Roni akan jebol (lagi) . Eh, tapi Mas Roni mau melanjutkan rencana tahun lalu untuk rutin olahraga lari. Semacam resolusi 2020, melaksanakan resolusi 2019.
Soal pekerjaan, Teguh adalah kunci dari jumlah klien melalui laporan yang tiap bulan harus ditanggungnya. Teguh adalah, Meta dalam casing yang berbeda.
Teguh, pemuda 25 tahun? Yang sudah PNS, yang bergelar S.H. , yang juga cumlaude, yang masih berjuang menemukan cinta sejati. Bukan kah itu paradoks? Tapi, terkadang ada banyak hal yang sulit untuk dipahami. Termasuk yang paling sulit dipahami oleh Teguh adalah perempuan. Dan mengapa dia masih tetap sendiri adalah buktinya.
Ini tentang keberuntungan, bagaimana Teguh bisa menjadi PNS. Ia suka pelajaran berhitung, ekonomi katanya, suatu kali saat kami mengobrol. Dia sudah mencoba mengikuti tes masuk Untan, tapi ditolak.
Lalu, ia mencoba mendaftar lagi, di Hukum kelas reguler, dan ditolak, pada akhirnya dia menjadi anak kelas malam. (Kalau tidak keliru). Kuliah malam, adalah kuliah yang santai, katanya.
Dan begitu lulus, belum punya pengalaman kerja, ia mendaftar, diterima jadi PNS. Itu luar biasa. Ketika Ia bercerita saat tahap wawancara, setidaknya saya berkesimpulan mengapa ia kemudian diterima. Teguh anak yang Jujur, dan dia mengatakan apa adanya.
Teguh, dalam hal lain adalah idola anak-anak. Mulai dari Mada, Sigrak, juga Kai. Saya percaya, orang-orang baik adalah yang bisa dekat dengan anak-anak. Karena anak-anak melihat segala hal dengan mata ketulusan. Dalam hal ini Adit adalah kasus yang berbeda. Meskipun dia bisa dekat dengan anak-anak sampai yang sudah besar, lebih pada kecakapan bicara (lamis).
Teguh juga, mempunyai kemampuan makan di atas rata-rata. Ketika kami di Dodik dulu, dia yang membantu menghabiskan berporsi-porsi makanan kami agar tidak dihukum. Teguh juga, adalah pecinta nasi goreng. Bahkan, ketika di Pizza Hut, ketika membuka menu, makanan yang pertama dicari adalah nasi goreng. Teguh adalah nasi goreng dan nasi goreng tetap teguh. Mereka sama-sama teguh dalam peran dan fungsinya.
Ini cerita dua tahun saya bersama Teguh, kalau ada kesempatan akan saya lanjutkan tentu saja. Termasuk orang lain yang pernah saya kenal.

Komentar