Catatan di Akhir 2019
![]() |
| PK 2017 Bapas Pontianak |
Apa yang sudah saya lakukan di
2019? Untuk bisa mengulas setahun perjalanan (kalender Masehi) paling tidak
pertanyaan itu yang pertama-tama saya ajukan. Tentu, baik kalender Masehi
maupun Hijriah tidak mengurangi religiositas seorang muslim sebagai umat beragama.
_
Kata, Freud, tokoh psikoanalisa,
yang beberapa orang juga menyebutnya sebagai Bapak Psikologi mengatakan
"kedewasaan tidak berbanding lurus dengan usia." Mengapa demikian?
Jawabannya sederhana, ya karena menua adalah kepastian, dan dewasa adalah
pilihan. Artinya menua dan mendewasa adalah dua hal berbeda yang harusnya bisa
sejalan.
_
"Individu harus bisa
mengambil pelajaran dalam setiap perjalanan." Lanjut Freud.
Oleh karena itu, saya (agar
disebut) individu yang (mencoba) dewasa harus bisa mengambil nilai-nilai itu.
_
Dalam 27 tahun kehidupan,
(walaupun kadang-kadang atau sering, banyak yang memeriksa KTP karena wajah
saya boros) 2019 adalah tahun yang memberi saya banyak kesadaran. Bahasa
kerennya insight.
_
Mulai dari konflik pernikahan yang
menurun, visi pernikahan jangka pendek, menengah dan panjang yang (setidaknya)
sudah lebih jelas gambarannya, pekerjaan, teman-sahabat-keluarga baru. Selain
itu, tentu beberapa pencapaian monumental.
_
Baik, saya mulai dari yang
pertama, pernikahan, kata Istri saya, pernikahan membuat individu menjadi
terikat dan bebas pada saat yang sama. Dampaknya, akan ada banyak gesekan, yang
tentu menjadi pemicu timbulnya konflik dalam pernikahan. Mustahil pernikahan
bisa berlangsung tanpa adanya konflik bukan? Karena barangkali di sana letak
pendewasaannya. Kalau kata Mark Manson, di bukunya yang dicetak belasan kali
itu (Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat) masalah adalah sumber kebahagiaan,
karena kebahagiaan akan hadir ketika individu bisa mereduksi masalah.
_
Artinya apa? Ya, dinikmati saja,
mustahil penyatuan dua pikiran tanpa ada pertentangan, karena individu punya
kehidupan dan visinya sendiri. Sementara pernikahan, (harusnya) akan saling
memudahkan dan mendukung untuk mencapai visi, sekaligus visi bersama yang
kemudian muncul sebelum atau setelah pernikahan.
_
![]() |
| Saat Mengikuti Pemilihan Pasangan Inspiratif dan Berprestasi 2019 |
Kesadaran akan hal tersebut, pada
akhirnya membuat saya (kami) lebih bisa saling memahami satu sama lain. Jujur,
saya banyak belajar, dari Si Bos untuk banyak hal dalam pernikahan dan
kehidupan, dalam menulis apalagi. Dalam memandang sebuah perkara, dia adalah
teman duduk, teman diskusi, dan tentu teman hidup terbaik.
_
Selanjutnya, adalah tentang
pekerjaan. Disadari atau tidak, kebutuhan fisiologis, dalam Teori Hirarki
Kebutuhan nya Maslow berada di paling dasar, urutan pertama yang harus
dipenuhi, sebelum need-need lain bisa
terpenuhi untuk kemudian mencapai aktualisasi diri.
_
Kebutuhan fisiologis, meliputi
makan-minum-oksigen-seks, dll. Ya, tentu tidak ada lain yang bisa memenuhi
kebutuhan tersebut kecuali dengan bekerja. Yang halal.
_
Setelah kebutuhan fisiologis,
kemudian, kebutuhan akan rasa aman-kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih
sayang-kebutuhan akan penghargaan dan yang paling pamungkas adalah aktualisasi
diri. (Meskipun juga ada yang berpendapat di atasnya lagi ada yang namanya peak experience).
-
Dengan pondasi Physiological need itu kemudian individu
bisa terus berkembang untuk menjadi pribadi yang utuh. Saya pribadi percaya 3
kebutuhan di atasnya bisa didapatkan sekaligus dalam lembaga pernikahan.
Tepatnya, setelah menikah (pernikahan yang sehat) jalan menjadi pribadi yang
utuh bisa cepat tergapai.
_
Dalam pekerjaan juga kemudian
saya menemukan banyak pribadi dan keluarga baru. Di Bapas, teman seperjuangan,
dari mulai yang tetanggan (Pak Husni dan Pak Roni), di kluster bimbingan anak
(Mbak Putri, Teguh, Bang Viktor, Bang Denny, Bang Sapar, Bagas, Fanser, dan
Karman), dan kluster bimbingan dewasa (Pak Lukman, Burhan, Pak Deda, Mbak Meta,
Adit, Bang Findra, dan Heri).
Dan saya juga menyadari, bahwa
harta yang paling berharga, setelah keluarga adalah tetangga!
| Liburan Keluarga dan Tetangga di Singkawang |
_
Mereka adalah keluarga, dalam
arti hubungan kedekatan. Bukan dalam arti KBBI. Dari mereka saya belajar banyak
hal. Beberapa sudah saya tulis dalam blog (yang semoga bisa saya naik kelaskan
tahun depan dengan membeli domain). Dari mereka saya kembali membuktikan
perkataan Imam Syafi'i "Merantaulah, maka kamu akan mendapatkan pengganti
saudara".
_
Dari pekerjaan juga, kemudian
saya mendapatkan banyak teman baru yang statusnya mungkin hampir sahabat. Jadi
pertengahan antara teman-sahabat. Jujur saya belum tahu itu istilahnya apa. Di
Diklat Pembimbing Kemasyarakatan beberapa saat yang lalu. Sebagaimana saat
ditanya di awal, oleh salah satu pengajar, "apa tujuanmu ke sini?"
Saya kemudian menjawab dengan yakin "mencari teman (yang hampir sahabat)
baru." Untuk kemudian akan saya klaim sebagai saudara kalau lagi butuh.
Semacam intervensi psikologis.
_
![]() |
| Tim PK Winning Eleven |
Selain 39 manusia superb. Yang saya banyak mengambil
contoh dari mereka, tentu ada beberapa yang akan saya abadikan dalam tulisan
ini. Beberapa nama kemudian yang sering (jarang?) saya repotin adalah : Hima,
Mas Bayu, Rasyid, Ardhana, Bli Asta, Nabila, Arsukma, Enno, tentu terkait
pekerjaan yang sedang saya jalani ini. Kata Hadits, barang siapa yang tidak
bisa berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bisa bersyukur kepada Allah.
Untuk itu, pada Team Winning Eleven
saya ucapkan terima kasih, agar saya tidak dibilang orang yang kufur nikmat.
_
Selain itu, yang masih berkaitan
dengan pekerjaan, ketika segerombolan pemuda (UU Nomor 40 tahun 2009) yang
usianya 16-30 tahun. Beberapa lebih dikit, tapi ngga papa, pembulatan ke bawah.
Menginisiasi pembuatan sebuah buku tentang penanganan ABH. Juga membuat saya
mengalami semacam Eureka, meskipun tingkatannya jauh di bawah Archimedes.
_
Dari 17 pemuda harapan bangsa
ini, yang tidak pernah bertemu (dalam artian bertatap muka) memberikan banyak
sekali gambaran. Bahwa untuk sebuah perubahan yang dibutuhkan adalah visi yang
terorganisir. Tidak peduli latar belakangnya.
![]() |
| Pohon Pengayoman yang berisikan anggota PK 1712 |
![]() |
| Buku Pertama dan Terakhir? |
Karena pada akhirnya, buku itu terbit, sesuai dengan rencananya di Hari Anak, di launching Pak Menteri pula. Dan tentu, pada dua orang yang saya sebut sebagai inisiator, Mbak Mirna dan Galih. Semoga kalian tenang di sana (di tempat kerja).
_
Tentu, semoga tidak hanya buku ini saja yang lahir dari rahim pemikiran kami. Karena, masih banyak hal yang harus disampaikan. Pada siapa saja. Di mana saja. Dan kapan saja, menembus keterbatasan umur yang kami miliki.
_
Dan kesadaran yang sama juga
diperkuat ketika saya tergabung dalam keluarga Kelas Inspirasi Pontianak. Menjadi
bagian dari perubahan, tentang berbagi impian, saya ingat betul saat SD betapa
bahagianya ketika ada Mas dan Mbak KKN, bukan Korupsi Kolusi dan Nepotisme.
Dari sana saya bermimpi semoga kelak menjadi seperti mereka, dan terwujud.
Maka, dengan Kelas Inspirasi, saya menjadi bagian dari orang-orang yang berpikiran
visioner agar mimpi-mimpi anak negeri terus hidup. Terima kasih Kelas Inspirasi,
sudi menerima saya menjadi bagian darinya. Semoga tetap dan terus sama, dari Khatulistiwa kita terbangkan mimpi anak
negeri.
![]() |
| Kelas Inspirasi Pontianak |
Selanjutnya adalah pencapaian,
pencapaian terbesar saya hingga saat ini adalah masih bisa berumah tangga
dengan bahagia. Dan selain itu beberapa yang mendapat pengakuan dari instansi
di luar keluarga.
_
Tapi, tentu yang paling penting
sekali lagi, menurut saya adalah keluarga. Yang adalah fondasi sebuah
peradaban, pencapaian seperti apa pun apabila dalam keluarga sendiri tidak
memberikan support maka hanya semu
belaka. Sekali lagi ini menurut saya.
_
Pencapaian kesadaran selanjutnya,
ketika kami ikut/terpilih dalam nominasi Pasangan Muda Inspiratif dan
Berprestasi 2019. (Yang juga sudah saya tulis di blog secara tersendiri).
_
Lalu, ya tentu tentang menulis,
saya bukan lahir dari keluarga penulis, maupun dari masyarakat yang mempunyai
kebiasaan itu. Bukankah individu adalah produk masyarakat? Tentu ini menurut
teori belajar sosial yang mau tidak mau harus kita sepakati.
_
Menulis, barangkali sebuah
pencapaian yang tidak hentinya saya syukuri. Betapa tidak, saya bisa
berinteraksi dengan banyak orang yang tidak pernah saya kenal, saya jumpai,
dengan tulisan! Saya bisa menyampaikan gagasan saya untuk mereka.
_
![]() |
| Buku yang Terbit di 2019 |
Hingga Desember 2019, 24 artikel
saya terbit di Koran Lokal dan Portal berita daring. Ini hal yang menurut saya
layak disombongkan. Karena menurut salah satu tokoh idola saya, Umar bin
Khattab "ada tiga tahap orang berilmu, jika memasuki tahap pertama, maka
dia akan sombong. Jika ia memasuki tahap kedua, maka ia akan rendah hati. Jika
ia memasuki tahap ketiga, maka ia akan merasa bahwa dirinya tidak ada
apa-apanya."
Dari situ sudah jelas, maka saya harus bisa sombong dulu bukan? Karena kalau sombong saja tidak bisa maka untuk mencapai tahap selanjutnya tidak akan pernah bisa. Ini boleh percaya boleh tidak.
_
Selain artikel itu, tentu saya
juga menerbitkan 2 buku di tahun ini. Buku tentang cerita ABH tadi, dan buku
tentang keluarga. Dan, ketika saya berhasil menjadi juara 2 dalam lomba menulis
essay tingkat Nasional. Sungguh, jumlah uang yang saya dapat adalah nominal
terbesar yang pernah singgah dalam buku rekening saya.
![]() |
| Lomba menulis Essay tingkat Nasional 2019 |
Sebenarnya, catatan di setiap
tahun adalah cara paling efektif agar di tahun setelahnya agar saya bisa memberikan
dan mencapai hal yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
_
* adanya, kata penghubung di awal
kalimat, atau tanda baca yang tidak sesuai PUEBI tidak usah dirisaukan. Itu
adalah bentuk Licentia poetica.
Meskipun saya bukan penyair. Terima kasih sudah membaca.








Komentar