Mengikuti Pemilihan Pasangan Inspiratif dan Berprestasi 2019 (Pengalaman dan Kesadaran yang Tidak Ternilai)

Energi kebaikan itu menular, begitu kata buku. Saya sendiri lupa buku mana yang saya baca. Itulah kemudian mengapa saya harus menuliskannya. Dari unggahan tulisan salah satu peserta : Janu Muhammad, nanti saya akan bercerita tentangnya. Karena tentu ada begitu banyak hal yang harus diwariskan, atau paling tidak sebagai kenangan untuk saya kelak, ketika sudah tua.


“Bapa” Kata Himada, saat pertama kali menjemput saya di bandara Supadio, Pontianak, sepulang saya dari Jakarta. 

“Mada pengin nginep di hotel kayak Bapa.” Lanjutnya.

Saya baru saja pulang dari penjurian lomba menulis Esai tingkat Nasional yang juga diselenggarakan oleh Deputi II Kemenpora. Selama tiga hari di Hotel Milenium, Jakarta Pusat, saya selalu menyempatkan untuk video call sehingga dari sana Mada menginginkan menginap di Hotel.

Mengikuti Lomba Esai Kepahlawanan 2019

“Berdoa ya, Nak, Insya Allah Mada bisa nginep dan main di Hotel juga nanti.” kata saya saat dalam perjalanan pulang. Kami mempunyai langganan taksi seorang penganut Budha, rumahnya hanya sepelemparan batu dari rumah kami. 

“Ya Allah, semoga nanti Mada bisa tidur di Hotel,” bisiknya lirih. Saya melihat Mada mengangkat kedua tangan mungilnya. Ia, Mada yang baru 3 tahun 3 bulan itu.

Esoknya kami beraktivitas seperti biasa, hanya saja selama empat hari ke depan saya sudah mengambil cuti, sehingga saya banyak menghabiskan waktu bersama Mada, berdua.

Pendaftaran Lomba yang dimundurkan  

Pengumuman Pendaftaran Lomba

“Bos, batas pendaftaran lombanya diundur lho. Masih sempat kalau mau coba daftar?” Kata Istriku.

 “Ayo aja, apa persyaratannya? Yang bisa dikejar sekarang?”

“Surat domisili, nanti makalah aku aja yang ngerjain, kamu bantu edit di akhir saja.”

“Oke, aku ke rumah pak RT kalau begitu.” Ya, tentu pekerjaan menulis itu memang bidangnya. Bukunya sudah seabrek, dan bahan bacaannya juga jauh lebih banyak. Menjadi editornya = tidak bekerja. Paling nambahin titik atau koma.

“Ada yang susah ini Bos, video profil peserta. Gimana ya?”

“Aku ada teman anak Kelas Inspirasi, biasa bikin video itu Bos, nanti kuhubungi deh.”

Video pun jadi, dan Alhamdulillah sangat puas dengan karyanya.



Submit di hari terakhir

Persyaratan pun pada akhirnya berhasil kami unggah, tidak kurang satu apa pun. Lengkap, termasuk makalah 20 halaman yang menurut saya bagus, bukan karena ini buatan istri, tapi lebih karena banyak banget analisis teori dan pengalaman yang sudah kami lakukan bersama. Seperti yang sudah saya pikirkan di awal, saya hanya menambahi titik dan koma.

“Bos,”

“Iya?” Jawabnya.

“Ada satu hal penting yang sudah kita dapatkan lho meskipun nantinya ngga lolos. Kita sudah punya makalah apa yang sudah kita lakukan selama ini, kita sudah punya video profil sendiri. Dan kita sudah mencoba. Seru aja.”

“Iya Bos, Lagian kalau kita lihat di sana, ada banyak orang hebat. Ada Mas Janu juga lho. ”

“Serius?”

“Mesti lolos ya kalau kayak Mas Janu.”

Kami sudah mengenalnya lama, kalau tidak salah sejak 2016. Walaupun dia tidak mengenal kami, tentu saja. Kiprahnya juga sudah banyak, jadi, kami wajar kalau menjagokan dia. 

Foto dengan Mas Janu dan Mbak Sulistiana

Ini blog pribadinya, kalau mau melihat apa yang sudah dilakukan


Hari Pengumuman

Pengumuman peserta yang lolos ke 25 besar diumumkan lewat IG resmi Deputi II Kemenpora. Dan, ya nama kami berhasil masuk ke dalam 25 nama pasangannya. Dan, ya nama Janu, persis di atas saya.

Pengumuman Peserta 25 Besar



Dengan hal-hal sederhana yang kami lakukan, kami berhasil lolos, disejajarkan dengan 24 pasangan lain, yang setelah saya mengenal mereka memang sangat luar biasa. Jauh di atas kami. Ini adalah bentuk apresiasi yang keterlaluan, terlampau besar.

Ya, tentu kami tidak mempunyai target lagi untuk menjadi lima besar maupun yang terbaik. Kami hanya sibuk mempersiapkan diri, kami selalu percaya bahwa tujuan dari setiap hal terletak pada proses, bukan hasil.

Entah, doa siapa yang kemudian membawa kami pada titik ini, kami percaya tidak ada keberhasilan yang datang dengan sendiri, ada tangan-tangan lain yang bergerak, mewujudkan, dan menjadikannya nyata. Kami hanya melakukan yang terbaik yang kami bisa, karena energi positif yang dikeluarkan pada semesta, tentu tidak akan kembali dalam hal lain, melainkan kebaikan yang serupa, bahkan lebih.

Kamar Hotel Aston

Pada akhirnya Mada  menginap di Hotel, dan di Jakarta, yang begitu check in langsung minta berenang ditemani saya dan teman baru rasa saudara, Mas Ihsan dari Jogja. Seorang pemuda dengan prestasi segudang yang sangat low profile. 


Kolam Renang Hotel Aston















Panitia Inspiratif dari Kemenpora

Saya sering mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh Kementerian, maupun terlibat sendiri menjadi panitia kegiatan. Tapi, sungguh, melihat panitia yang demikian bersahabat baru pertama kali. Itulah yang juga dirasakan oleh peserta lain. Saya hanya berpikir, pemimpin seperti apa yang kemudian melahirkan kepanitiaan (manajemen birokrasi?) sehumanis ini.

Sejak pertama kali kami registrasi ulang, mereka sudah menyambutnya dengan keramahan, mendahulukan pasangan yang membawa anak. Memberikannya ruangan yang berbeda. Tentu, semua akomodasi kami juga ditanggung plus uang saku yang jumlahnya tidak sedikit.

Malamnya, kami mendapatkan pembekalan dari Bapak  Asrorun Ni’am Sholeh. Ternyata masih muda banget dan kiprahnya luar biasa. Kami juga mendapatkan penjelasan mekanisme penilaian presentasi makalah yang sudah kami buat. Kami mendapatkan urutan 19 untuk undian presentasi esok harinya. 

Menuju Metro TV

Hari Minggu, kami menuju Metro TV, menyusul 24 pasangan lain yang sudah dulu sampai di sana. Kami harus mencari hotel transit, karena memundurkan kepulangan. Di sana adalah pengumuman lima besar yang akan kembali diuji oleh dewan juri yang terdiri atas: Ketua KPAI, Bapak Deputi, dan Ibu Anggota DPR.

Pengumuman Penayangan Lomba di Metro TV


Ini tentu pengalaman pertama kami, masuk ke studio, melihat banyak sekali peralatan studio, bagaimana orang-orang diindustri ini sangat dinamis dan cepat dalam bekerja. Dan satu hal, AC-nya dingin banget.

Kami, ber-25 pasangan diajari bagaimana masuk dalam panggung dan keluarnya setelah pengumuman lima besar. Mencoba hingga lima kali. Sampai akhirnya betul-betul paham.

25 Pasangan inspiratif dari seluruh Indonesia


Pengumuman Lima Besar

Kami sudah merasa menang dan berhasil ketika sudah menyelesaikan berkas kami dan berhasil submit di hari terakhir. Kemenangan kami yang kedua adalah ketika kami sudah belajar semalaman untuk persiapan presentasi di hari Sabtu. Kami harus membayar mahal kepercayaan yang sudah diberikan dengan melakukan semaksimal yang kami bisa. Itulah cara kami.

Dan, ketika pada akhirnya nama kami di sebut dalam pasangan yang berhasil lolos lima besar. Itu bukan lagi menjadi kemenangan, itu adalah sebuah kepercayaan. Saya dan Istri (setelah kami ngobrol) tidak ada ekspektasi untuk menjadi yang terbaik. Karena, sampai tahap ini, kami benar-benar merasa tidak percaya mendapatkan kepercayaan sedemikian tinggi. 

Sebuah kehormatan, sebuah kebanggaan pada perjuangan guru-guru kami, dari SD hingga Perguruan Tinggi, yang sudah memberikan demikian banyak teladan, dan doa-doa.

Penjurian kedua di studio Metro TV

Melihat diri saya di TV

Minggu malam, WA saya ramai dengan pesan yang masuk, mengucapkan selamat dan kebahagiaan, dan di antara yang mengucapkan adalah orang tua kami (bahkan hingga nonton bareng), guru-guru saat SD dan SMP, hingga dosen-dosen kami. Semoga kebaikan dan keberkahan senantiasa membersamai mereka.


Kiriman gambar 1
Kiriman gambar 2


Saya harus jujur, program ini berdampak luar biasa, bagi kami secara pribadi. Maupun masyarakat, kita tentu sudah bosan dengan berbagai macam drama yang tidak mendidik, atau reality show yang menjual kemiskinan untuk menaikkan rating.

Kemenpora melalui Deputi II Bidang Kepemudaan melakukan hal yang luar biasa, memberikan tontonan sekaligus tuntunan, pada generasi muda. Memberikan apresiasi pada anak-anak muda yang sudah berkontribusi positif pada lingkungannya.

Senang menjadi bagian dari program ini.


Pasangan yang Luar Biasa Inspiratif


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Heri, Sebenarnya (Nggak) Pelupa

Hutan Ilusif: Gawai

Pengalaman Tes CAT Kemenkumham