Pekerjaan
Tentu sudah menjadi keinginan
banyak orang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Beberapa orang yang
kukenal juga demikian, ambillah contoh kawanku Hendry, bukan nama samaran. Dia
adalah tipe yang pemilih untuk urusan karir. Dan saya sependapat dengannya.
Baginya kita harus berani mengambil resiko untuk mau berkarir di tempat yang
baik. Resiko itu adalah terkait dengan persaingan yang lebih kompetitif,
berarti usaha yang lebih keras untuk bisa mendapatnya.
Dengan kita berfikir demikian
artinya kita menantang diri sendiri untuk mau berusaha melewati batas kemampuan
yang dimiliki. Ada semacam upaya untuk meng-upgrade.
Ini bagus.
Tentulah hasilnya juga berbeda,
mulai dari pengalaman, iklim kerja, hingga benefit yang diperoleh. Dan ini
berarti ada keseimbangan. Impas. Energi yang dikeluarkan akan sebanding dengan
apa yang didapat. Jika kemudian mendapati beberapa pribadi yang mengeluh karena
sulit mendapat pekerjaan bisa kita tanyakan? Berapa puluh lamaran yang sudah dibuat?
Karena hanya sedikit orang yang beruntung langsung mendapat pekerjaan di surat
lamaran pertama. Saya sendiri sudah membuatnya hingga 50an kali lebih.
Menurut saya bukan perkara apa
profesi kita. Baik pengusaha atau pegawai adalah sama baiknya. Baik karyawan
swasta maupun pegawai negeri sama mulianya. Yang lebih penting adalah seberapa
amanah kita menjalaninya. Memang menjadi impian banyak orang untuk duduk di
posisi yang bagus, katakanlah Manajer. Dan itu sesuatu yang lumrah. Tapi bukan
berarti Office Boy itu hina. Semuanya
mempunyai tanggungjawab masing-masing dan itulah yang kelak akan dinilai
seadil-adilnya.
Jika memang Manajer lebih mulia
di banding OB tentulah surga hanya di isi oleh Manajer. Tapi kenyataannya tidak.
Lihatlah kesebelasan sepak bola, apakah semuanya ingin menjadi penyerang? Tentu
tidak. Ada yang berperan menjadi penjaga gawang, pemain tengah, gelandang,
sayap, maupun pemain bertahan. Dan semuanya mulia, semuanya bekerjasama. Jadi
bukan tentang posisi/jabatan, tapi amanah yang harus ditunaikan.
Punya impian bekerja di perusahaan
besar atau multinasional bagus, tapi amanah yang diembanlah yang harusnya lebih
diperhatikan. Tingginya kesenjangan di masyarakat menurut saya adalah karena
sebagian orang lebih memikirkan posisi jabatan tapi kurang memperhatikan amanah
yang harus diemban. Sehingga segala cara menjadi halal asal mendapatkan posisi
tersebut.
Nah, menjadi manusia yang seperti
apa kitalah yang menentukan. Bukan orang lain.
Ketika selesai mengikuti proses
panjang CPNS dan saya lulus, ada semacam keheranan pada diri saya. Karena
bukankah harusnya saya sujud syukur atas semuanya. Pun ketika ibu saya bertanya
apakah kamu langsung bersujud ketika pengumuman, menangis atau lainnya? Saya
tidak melakukannya. Dari sekian banyak pekerjaan yang dilalui barangkali ini
memang yang terlihat paling wah. Tapi saya sungguh merasa biasa saja. Dan
ternyata istri saya berpendapat demikian.
Bersyukur tentu saja, akan tetapi
saya sudah mempunyai cara tersendiri. Ya, dengan berusaha agar bisa amanah
dalam mengerjakan tugas dan tanggung jawab nanti. Itu yang lebih banyak
menghantui pikiran pikiran saya belakangan ini.
Menjadi CPNS tentu mempunyai
tanggung jawab yang besar, karena serupiah yang digunakan sebagai gaji adalah
cucuran keringat seperempat miliar orang Indonesia. Tentulah menakutkan jika
amanah yang diemban tidak dilaksanakan dengan baik, siapkah untuk dituntut pada
hari pembalasan kelak?
Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yakni kematian –Al hadits.
Komentar