Persisten
Siklus kehidupan, hidup lebih tepatnya.
Dan kalau dipersempit lagi adalah suasana hati, setelah diperdalam lagi adalah menjaga
konsistensi dalam belajar. Ya, poin yang akan saya ceritakan adalah itu.
Kehidupan setelah pernikahan
mengajarkan saya banyak hal, terlebih pasangan kita mempunyai kemampuan di atas
kita, maka secara natural kita akan terbawa untuk menyesuaikan dengan
kemampuannya.
Dulu, tiga-empat tahun ke
belakang. Saya bukan tipe pembelajar, bukan orang yang suka belajar lebih
tepatnya. Belajar yang saya maksud adalah belajar pada satu hal yang spesifik. Dari
awal, saya suka membaca apa saja, terlebih sirkus politik di Negeri ini. Termasuk,
berita politik luar negeri, dan lebih tepatnya apa saja tentang hal yang ingin
saya tahu.
Kontradiktif dengan Bu Bos. Dia,
selain terbiasa belajar juga dapat belajar spesifik pada satu hal, satu tingkat
di atas konsisten, persisten. Wajar, jika kemudian Dia menjadi lulusan tercepat
dan terbaik.
“Bos,” katanya, membuka percakapan
sambil meletakan HP di sampingnya. Saya sudah paham tentang hal ini, artinya
akan ada pembicaraan yang memang dirasa penting.
Sudah sejak awal-awal pernikahan,
meskipun tidak setiap hari, kami selalu menyempatkan pillow talk. Ritual khusus untuk berkeluh kesah tentang apa yang
sudah dijalani sepanjang hari.
Setelah Himada, anak pertama kami
lahir, ritual itu sering kali dilakukan setelah Ia tertidur. Kami belajar untuk
melatih kedisiplinan dalam membentuk jam biologis, siklus tidur yang akan
berulang setiap hari.
“Ya?”
“Kok kamu sekarang rajin banget
belajar ya?” Tanyanya, heran tapi serius.
“Gimana ya, Bos?” Saya menjawab
dan sedikit menggantungkan jawaban dengan pertanyaan lagi. Artinya lebih ke
mencoba untuk memikirkan jawaban yang tepat sambil berpikir yang realistis.
Soalnya, untuk hal ini, saya tidak bisa menjawabnya sembarang, karena biasanya
obrolan akan berlangsung menarik.
“Kamu sudah ngerjain Hello
english?”
Hello english adalah aplikasi
untuk belajar bahasa inggris, aplikasi yang lahir dari India, yang punya
hubungan sangat dekat dengan Indonesia di periode awal kemerdekaan dulu.
“Aku ngerjain terus, Kamu
sendiri?”
“Udah lama banget Bos,”
“Aku sebenernya, ya karena
ketularan Kamu Bos,” jawabku, berusaha untuk membesarkan hatinya. Benar
memang, fakta yang ada. Dalam banyak hal saya sering belajar darinya. Saya
pikir kehidupan berumah tangga memang untuk saling belajar, mengisi, memaklumi,
dan membersamai dalam setiap proses.
“Aku kenapa ya, Bos?” Tanyanya.
“Kamu mikir sebaliknya ya, Bos?”
“Iya.”
“Mungkin karena kamu banyak
disibukkan dengan tugas domestik ya, Bos?”
“Mungkin juga, Bos.” Jawabnya.
Saya beberapa kali membaca artikel
tentang parenting, co-parenting, dan seluk beluk pengasuhan. Tugas akhir saya juga
terkait dengan pengasuhan seorang ayah. Sedikit banyak saya tahu tentang
bagaimana berbagi peran dalam pengasuhan, meskipun tetap banyak kesalahan.
“Soalnya, kamu kan seharian sama
Mada, Bos. Jadi, seharian untuk tetap bisa berpikir jernih, menahan emosi,
berpikir untuk tetap menjadi sekolah pertamanya, kan bukan hal yang mudah, jadi
pasti lelah.”
“Iya, Bos. Atau mungkin juga karena
ngga ada yang kukejar gitu ya, Bos?”
“Maksudnya?”
“Kalau pas zaman kuliah kan kita
ada tugas, ada banyak tuntutan, artinya kita juga termotivasi untuk
menyelesaikan.”
“Bisa juga, Bos. Tapi, juga harus
selalu ingat tujuan awal kita juga.”
Sebenarnya, menjadi PNS tidak
pernah menjadi bagian dari rencana hidup saya. Lebih pada keinginan untuk
menyenangkan orang tua. Sebelumnya, kami memang berencana untuk bisa
melanjutkan kuliah. Kami sama-sama menyukai dunia kampus, menemukan hal baru
yang menyentak kesadaran.
Saya lebih cenderung menyukai
aktivitas sosial organisasinya sedangkan dia pada diktat-diktat keilmuan. Hal
sama yang akan ditemukan dalam dunia kampus.
“Terus gimana baiknya, Bos?”
“Ayo, dikerjain.”
Komentar