PK WINNING ELEVEN
Ada orang-orang hebat yang dilahirkan dengan bakat
istimewa, menempel begitu saja saat lahir. Tanpa diminta. Sedangkan sebagian
yang lainnya harus bersusah payah, mencari dan menemukan bakatnya. Menggunakan
berbagai macam alat tes untuk mencari tahu, dan hasilnya tetap nisbi. Tentu saya
adalah orang yang kedua.
Saya lemah dalam eksak, gagal dalam sosial, buruk dalam
kimia, dan awam dalam sastra. Lengkap sudah bukan? Seumur hidup, hingga 27 tahun
kehidupan saya belajar untuk menulis dan memaksakan diri bahwa itu adalah bakat
saya, sembari tentu saja meyakinkan diri agar saya tidak putus asa. Namun, tetap.
Nampaknya, saat Tuhan sedang membagi-bagikan bakat pada umat manusia saya
sedang tidak hadir di sana.
Maka, ketika saya berjumpa dengan 39 (manusia?) lain yang
dilengkapi dengan prototipe lengkap saya merasa semakin inferior. Dan, saya
berusaha untuk memantaskan diri untuk paling tidak menjadi bagian kecil di
antara mereka.
Jikalah mereka berjalan, maka barang tentu bukan saya
yang membersamai nya dalam berjalan, saya hanya akan menjadi bagian yang
memastikan agar tidak ada batu yang mengganjal dalam perjalanan. Atau paling
tidak membuatnya tersandung serta terpeleset.
Jikalah mereka sedang makan, maka sudah pasti bukan saya
yang menemaninya bercerita. Saya akan menjadi orang yang memilah-milah batu
yang mungkin ada dalam nasi yang mereka makan.
Jikalah di antara mereka ada yang sedang tampil, maka
sayalah yang akan paling keras dalam bertepuk tangan. Itulah peran yang saya yakini,
selama ini. Bukan kah, di alam semesta setiap energi yang kiat keluarkan akan kembali
dalam jumlah yang sama dalam bentuk lain?
***
Di atas, adalah cara saya mengawali cerita. Paling tidak agar
majelis pembaca menempatkan saya pada posisi yang jelas, saya bukan pesaing,
tidak ingin bersaing, dan tidak mau bersaing. Saya bukan musuh, tidak akan
menjadi musuh, dan tidak ingin menjadi musuh.
Adalah tentang laki-laki baik, yang memenuhi kriteria
mertua generasi X. Saya mengenalnya pertama kali saat berada di Flat 1. Sejak
awal saya melihat, saya yakin dia orang baik. Paling tidak jauh lebih baik daripada
saya. Dia satu-satunya laki-laki yang membantu membawakan barang saat ada
peserta perempuan yang baru saja datang dan akan naik ke lantai tiga.
Saya, tidak akan lebih detail lagi dalam menjelaskan,
karena baik bebet, bibit, bobot sudah demikian kentara saya melihat.
Barangkali, kebaikan adalah nafas dalam hidupnya. Namanya
Ganang. Dia dari Tulung agung, sebuah kabupaten di bawah teritori Jawa timur. Kini
ia menjadikan Merauke sebagai rumah kedua, mau tidak mau. Bukankah kita memang
tidak mempunyai banyak pilihan? Ketika kita sebenarnya mempunyai banyak
kebebasan?
***
Kita
bermula dari posisi yang sama, dari tempat yang kini kita sebut dengan kata
rumah. Paling tidak begini, kawan. Tentang apa yang disebut rumah. Rumah adalah
tempat dimana kita akan kembali. Bukankah selepas dari sini kita akan kembali
ke sana?
Banyak
dari kita yang tidak berharap mempunyai rumah baru dengan wajah kehidupannya
yang seperti itu. Tapi, bukankah akan menjadi indah saat kita mampu
menertawakan (ketidakberuntungan?) itu. Benar, tentang tempat yang benar-benar
menyita kebebasan kita sebagai seorang individu.
Saya kagum dengan Hakam, yang harus meninggalkan Cirebon untuk
menghabiskan waktu di Sorong. Saya benyak belajar dari Ardhi yang harus hijrah
dari Banjarnegara menuju Manokwari. Saya iri dengan ketegaran Hima yang dari
Malang harus menjalani kehidupan di Ternate, apakah berarti nasibnya sama
dengan nama tempatnya dilahirkan?
Pada Azi, kita belajar tentang integritas, di tempatnya
sana, yang saya (jujur) baru mendengar saat menjadi PK ternyata ada nama daerah
Bau-bau. Bahkan, untuk rokok yang hendak ia hisap pun harus jelas dari mana
sumbernya. Sungguh keteladanan Mbah Ahmad Dahlan yang tercermin nyata.
Untuk Angga, setidaknya saya juga harus menunjukkan penghormatan
yang luar biasa, padanya saya belajar tentang keberanian. Ketika ia harus
meninggalkan Jogjanya yang kata Joko Pinurbo: terbuat dari rindu, pulang, dan
angkringan.
***
Pada Rasyid, walau bagaimanapun. Ia adalah ayah yang
harus jauh meninggalkan rumahnya. Ke daratan Polewali. Sebuah tempat yang
barangkali, dalam mimpi pun tidak pernah ia sebut dan harapkan. Serta pada Deda,
yang harus menjalani hari-hari di Kupang.
Pada satu sosok ini, saya akan bercerita dengan kalimat
yang sedikit panjang.
Dulu,
60.000 tahun sebelum penciptaan Tuhan telah menentukan nasib kita di dunia. Tentang
bagaimana kita akan menjalani kehidupan. Termasuk seberapa banyak kita harus mengalami
ketidakberhasilan. Saya tidak setuju dengan diksi gagal, bukankah gagal hanya
untuk orang yang berhenti mencoba?
Saya
akan berkisah, tentang apa itu perjuangan, mengapa keberhasilan itu kerapkali
tertunda, atau setidaknya mewujud pada hal yang berbeda. Dia salah seorang dari
40 manusia yang berada di kelas kita.
2010,
selepas masa SMA ia mencoba mendaftar sekolah kedinasan milik Kepolisian,
Akpol.
2013,
ia kembali mencoba menjajal peruntungannya di sekolah dinas, Poltekim. Sekolah
kedinasan kepunyaan Kemenkumham.
2017,
ia kembali mencoba peruntungannya menjadi seorang PNS. Dan, ya seperti yang
kita sama-sama tahu, namanya sering disebut, dibahas, dipertanyakan. Manusia
macam apa yang bisa memperoleh nilai sedemikian tinggi pada setiap tahapan.
Namanya
Maharidho.
Nyatanya, dia tidak seabsurd yang saya bayangkan
sebelumnya, atau sosok asosial yang banyak menghabiskan masa muda dari buku ke
buku. Dia, adalah manusia yang masuk pada kategori pertama. Yang dianugerahi
bakat, bahkan tanpa ia minta. Kecerdasan yang hakiki. Bahkan tanpa belajar, ia
adalah paradoks dari hukum kausalitas, sungguh asem bukan?
***
Sebenarnya, saya juga ingin menuliskan dan menyampaikan
rasa terima kasih pada, Mbak-mbak? Sosok tinggi besar? Yang penunggu sini.
Sungguh kehadiranmu membuat saya menjadi pribadi yang selalu deg-degan karena
merasa diawasi. Tapi, bukankah pesan itu tidak akan sampai pada mereka?
Terakhir, tentu saja untuk semuanya. Dalam waktu yang demikian
singkat ini kita sudah saling mengenal, mencoba memahami dan gagal. Walaupun
sulit, tapi berusaha untuk saling mengerti, walaupun tidak harus. Dari awal
saya hanya ingin mencari teman. Maka, izinkan melalui tulisan ini saya meminta
maaf apabila dalam 20 hari (?) ada kesalahan yang sengaja saya buat terlanjur
membekas.
Kita akan mengingat nama-nama ini, dalam salah satu
episode kehidupan kita, yang melengkapi mozaik-mozaik kehidupan kita. Setiap
orang adalah pahlawan untuk dirinya sendiri.
Yudha-Jakarta Timur/Utara
Agri-Bengkulu
Ardhi-Purwokerto
Arsukma-Denpasar
Bayu-Lombok
Cendy-Kediri
Dedy-Serang
Mayang-Palembang
Fadhila-Cirebon
Asta-Denpasar
Heny-Surabaya
Intan-Padang
Anggar-Samarinda
Kresno-Bogor
Musdalifa-Makasar
Nabila-Jogja
Niki-Jakarta Timur/Utara
Nikita-Jakarta Selatan
Peni-Surakarta
Puji-Semarang-NK?
Puspita-Palopo
Satrio-Jakarta Barat
Sukma-Pekan Baru
Violla-Pangkalpinang
Ardhana-Malang
Wedha-Magelang
Wulan-Bandung
Yeni-Jember
Yuni-Jakarta Pusat.
Pada mereka kita semua
belajar, tentang bagaimana memupuk kesadaran menjadi manusia. Karena,
sudah
banyak contohnya. Manusia yang kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.
Tabik.

Komentar