Menjadi CPNS, Wani Piro?



Oya, Soal CPNS, Pas awal aku ndaftar, eh didaftarin sama (sebut saja) Hendry Apriansya, ini juga bukan nama samaran. Dan ternyata ketika dalam perjalanan Ia-nya udah duluan keterima di perusahaan manufaktur terbesar di Kalasan sana. Jadilah akhirnya dia menggugurkan dirinya sendiri. Alhamdulillah saingan berkurang satu. Soalnya secara akademik dan prestasi dia jauuuh di atasku je. Kumlot juga, wah jan.

TeKaDe
Tes Kompetensi Dasar, lagi-lagi aku harus bersinggungan dengan Si Hendry. Tak lain dan tak bukan adalah karena aku harus pinjem sepatunya. Yang mereknya Bata. Soalnya aku nduene capit je.

Pengalaman pertama mau ikut TeKaDe aku zonk, ngga tahu apa-apa terkait soal dan lainnya. Tapi ya itu, Alhamdulillahnya Gusti Pangeran memberikan pertolongan lewat sebut saja Dewi. Asli Temon. Ini juga temen kuliahku. Dia yang jadi donatur latihan soal. Jadi sekiranya amunisi sudah lengkap sebelum bertempur.

Materi TKD melalui Wawasan kebangsaan yang terkait UUD, Pancasila, Sejarah, dan Kebijakan pemerintah juga. Pokonya nek dulu pinter PPKN ya mendinglah.

Selain materi di atas ada juga yang lain. Namanya Tes Intelegensi Umum atau TIU. TIU ya kaya soal 
Intelegensi pada umumnya cuma ini levelnya bikin kepala pusing. Yang terakhir adalah Tes Kepribadian. Kalau kepribadian soalnya menjebak. Kok bisa? Semua jawaban bener. Cuma nilainya ada rentang, dari 1-5.

Hari pas ujian
Aku kebagian hari Jumat sesi 5 (lima) alias terakhir. Waktunya Alhamdulillah molor, karena memang nabrak Jumatan pas di sesi siang. Terus pas sesiku nabrak Maghrib. Jadinya maghriban dulu.

Panitia dari Kemenkumham jogja Alhamdulilahnya seru, banyak becanda gitu. walaupun sangar-sangar. Jadinya ngga yang degdegan. Soalnya kan banyak yang pengalaman pertama. Aku juga banyakin ngobrol, alih-alih sebagai katarsis lah. Di tes pertama semua dicek, sampe saku segala macem. Takutnyanya ada yang curang. Pokonya top. Jadi masuk ruangan cumak bawa KTP, kartu peserta, dan ........ eng ing eng... bawa diri aja. Jangan harap bawa jimat!

Soalnya ada 100 biji. Terdiri dari Tes Wawasan Kebangsaan, Tes Intelegensi Umum, dan Tes Kepribadian. Masing masing ada nilai minimal atau pesing gred. 80, 75, 143. Mantep kan?

Nile total 500, jadi satu nomor poinnya 5 (lima). Ya bisa dikira-kira lah. Kalau aku kemarin di target 20-20-30. Jadi ngga harus bener semua.

Dan targetpun tak tercapai. Ah Sudah biasa!

DOA
Dan yang paling penting minta doa sepasang bidadari sorga, ibu dan istri. Nek urung mbojo? Sabar .... Kenapa doa? Aku banyak yang ngarang jawabanya. Tapi karena (mungkin) doa mereka jadi tanganku yang ngasal klik, tapi bener. Kaya dituntun gitu lah.

Ujian dengan sistem CAT ini seru. Jadi begitu selesai nile kita langsung nongol. Nilaiku cumak (alhamdulillah) 340. Lolos ke TeKaBe. Tes Kompetensi Bidang.

Te Ka Be
TeKaBe ini ada dua, yang pertama pake CeATe juga, kaya pas TeKaDe. yang kedua Wawancara atau interpiuw. Bobot TeKaBe satu dan dua masing masing 50:50. Jadi kalau pas pertama nilenya bikin panas dingin bisa diperbaiki di yang kedua.

TeKaBe 1 (satu) soalnya terkait bidang formasi jabatan. Karena aku formasi yang dipilih Pembimbing Kemasyarakatan, jadi soalnya ya tentang itu ples ada pasal-pasal juga. Oya, materi psikologi, sosiologi, dan hukum juga karena memang formasiku untuk jurusan tersebut juga. Aku yo awalnya zonk. Opo kui PK? Untunglah ada hape istri yang forji. Jadi bisa nunut nanya ke si mbah legendaris. Gugel. Pokoknya jaman now itu harus rajin-rajin beli paketan. Karena ada peribahasa -minim kuota bingung di jalan-. Pie le, penak jamanku opo jaman now?

Pokoknya andalkan diri sendiri, ngga usah joki-jokinan. Jadilah orang yang paling tahu pekerjaan formasi yang dilamar. Keponakan pak Yasona yang paling berkuasa di Kemenkumham aja nggak lolos.

Karena udah pengalaman di tes pertama, hehe.. berasa superior. Ngga yang planga plongo liat komputer bagus di gedung BeKaeN. Gedung BeKaeN Kanwil Jogja ada di jalan Magelang. Depan Pom bensin. Ada tulisannya juga depan jalan. Areanya luas banget. Jadi jangan jalan kaki.

Di tes kedua ini panitianya juga masih seru. Cumak pengecekannya lebih ketat dari yang pertama. Jadi jangan harap pake joki atau calo. Lagian belum tentu juga jokinya pinter. Mending sendiri kan seru ngalamin sendiri bisa buat crita ke anak sama cucu.

Peserta di tes TeKaBe ini ada dua formasi, keimigrasian sama yang punyaku. Total satu sesi ada 197 atau 97 kayae. Agak lupa. Pengawasnya juga mondar mandir. Bikin nambah gerogi. Dan soalnya itu.... banyak yang ngawur pokoknya pas jawab.

Seluk beluk bidang pekerjaan harus dikuasai bener-bener. Terkait dengan sejarah formasi hingga job desknya. Pokoknya harus pahami benar dan baca berulang ulang.

Aku alhamdulillah dapet modul resmi pas cari-cari di webset pemerintah. Webset pemerintah biasanya ada go.id (government/pemerentah) nya.

Soalnya berjumlah 100, nilai total 500. Sama kaya pas TKD. Pokoknya jangan sampai ada soal yang ngga dijawab karena salah ngga mengurangi nilai kok.

Pas TKB aku Alhamdulillah dapet skor 300. Pas. Jadi cuma bisa menjawab benar 60%.

Artinya aku harus kerja kerja kerja buat di wawancara. Biar nilenya bisa naik. Kerjanya ya belajar dan belajar serta belajar. Tok. Baru berdoa. Ikhtiar Tawakal. Kalau bisa minta doa semua orang yang dikenal. Karena kita ngga tahu doa siapa yang bakal diijabah. Jangan merasa alim puolll sehingga merasa doa kita tok cukup.

Karena sistem CeATe ini kece bade jadi total skor semua peserta juga bisa dilihat di layar tv yang lebar banget. Aku sendiri nangkring di posisi 19. Alhamdulillah akeh sing luwih sitik.. eh!

Jarak tes TeKaBe 1 (satu) dan 2 (dua) ngga sampe seminggu. Jadi begitu selesai langsung gas pol latihan buat wawancara. Untuk yang satu ini aku dibimbing oleh rekan sejati, alias istri tercinta. Yang udah pengalaman wawancara.

Aku sendiri membuka puluhan blog. Webset. Bolak balik buku. Hanya untuk melihat tipe pertanyaannya. Dan akhirnya aku membuat 40 daftar pertanyaan dan jawaban yang kira-kira bakal muncul.

WAWANCARA
Tahap wawancara ini biar bagaimanapun tidak bisa dianggap remeh. Orang yang biasanya pinter pol. 

Bisa jadi planga plongo karena gerogi. Jadinya jawaban ngasal wal hasil wassalam.

Sebelum ke topik ini aku mau berbagi tentang inseg (insight/hikmah) yang kudapet.

Rodo serius sitik. Jadi, sebelum ke wawancara dan kita diterima atau ditolak di endingnya mending rubah pola pikirnya dulu.

Menurutku dari semua yang udah terlewat ada hal yang patut disukuri. Apa? Ya! Proses. Proses dalam setiap tahapan tes mempunyai keseruan tersendiri. Ada ke aku an yang di apgred. Ada teman baru, ilmu baru, wawasan baru, dan pengalaman mengindera hal-hal baru. Itu semua ada dalam proses.

Seperti orang yang lapar, mana yang lebih dinikmati? Liat makanan - ambil - kunyah sambil ngiler.  Apa kenyang?

Yo yang dinikmati prosesnya kan? Kenyang itu kan bonus dari proses. Kalau masih laper yo tinggal makan lagi. Sama dengan Tes Ce Pe eN eS ini. Yang harusnya dinikmati ya prosesnya bukan tujuannya.

Keterima atau tidak itu bonus. Kalau orientasinya hanya tujuan atau keterima maka segala cara akan menjadi halal. Haa nek wis ngene ujung-ujunge yo ngga bakal mberkahi. Wong kita kalau laper di suruh milih daging opo tiwul penginnya yang enak kok walaupun sama-sama bikin  kenyang. Ya prosesnya kan?

Jadi dalam doa-doamu wahai umat manusia, ucapkanlah "Ya Allah jika memang pekerjaan ini baik dan aku bisa mengemban amanah maka jadikan aku orang yang bertanggung jawab. Tapi (iki sing rodo abot) jika memang aku tidak bisa memegang amanah kelak, berikan aku hati yang lapang untuk setiap jalan yang sudah Engkau tetapkan agar aku menjadi hamba yang tetap bersyukur."

Jadi yo hati kita ayem. Ilmu Nrimo iku cen angel-e. Perlu dilatih.

Nek bicara ilmiah, seorang pakar psikolohi mbah buyut Roger pernah ndawuh. "Kalau ideal self kita terlalu tinggi dan berjarak dengan real self ya bakalan stres". Bahasa sederhananya gini, kalau harapan kita diterima terlalu tinggi tapi nanti gagal ya kita bakal stres. Terus apa ngga boleh berharap? Ya boleh, dengan memaksimalkan prosesnya. Belajarnya. Bukan di tujuannya.

Kaitan antara ekspetasi yang tinggi dengan proses di tiap tahapan tes juga ada. Apa? Salah satunya kecemasan, adrenalinnya terlalu berlebihan karena faktor tadi itu. Kalau bisa kita kasih sugesti : lolos yo ben, ora yo ra popo. Jadinya lebih sante. Ngga terbebani. Tapi tetep belajar lho yah.

WAWANCARA
Aku kebagian hari pertama. Lokasi yang tadinya di Jakarta pindah ke daerah, atau tiep kanwil. Karena 90% peserta dari luar Jakarta. Mesakne tho? Udah mahal beli tiket nanti ngga diterima. Gitu mungkin.

Aku sendiri di tempatnya pak Sultan. Alias negeri Ngayogyakarta. Kanwil Kemenkumhamnya terletak deket sama kosku, lha satu kelurahan je. Lokasinya di jalan gedong kuning, kanan jalan kalau dari arah utara menuju pasar legendaris Kotagede.

Aku sendiri tiba di lokasi sudah agak telat meskipun sebenarnya belum mulai. Soalnya udah pada dateng semua. Pada awalnya kita semua dicek satu persatu apa ada tato atau tidak. Tahap ini kita dipanggil  untuk masuk ruangan dan di sana ada dua petugas.

'Ini apa mas?' tanya petugas penuh curiga, sambil menunjuk di salah satu bagian kakiku. setelah aku disuruh gulung celana dan lengan baju.
'Itu bekas luka pak' jawabku kalem sambil mesem-mesem.
'Oh. begitu..' nampaknya terlihat percaya sambil angguk angguk.
'iya, dulu saya korengan pak'
Jadi korengpun akan dicek lho.

Setelah pengecekan koreng selesai. Eh tato. Kita antre untuk mengisi daftar riwayat pekerjaan. Aku waktu itu ngisi enam perusahaan. Mulai dari pas masih di Alfamart jadi pramuniaga, warung kopi sebagai server, guru, ngasisteni psikolog di lab kampus, manajer, dan terakhir kepala HRD. Niatnya biar banyak kalau dilihat.

Bener lho iki, pengalaman kerja punya nilai tersendiri. Pas dulu masih jadi kepala HRD, salah satu yang bakal jadi pertimbangan buat calon karyawan ya pengalaman, baik kerja maupun organisasi. Karena dengan adanya pengalaman, calon karyawan lebih mudah beradaptasi dalam bekerja.

Setelah selesai nginput data kita semua masih harus antre lagi nunggu panggilan buat wawancara. Dan kelihatan banget yang mukanya pada tegang. Deg-degan gitu lah. Aku respek sama mas yang di sebelahku. Karena dia nyempetin buat sholat dhuha dulu. Dan keliatannya juga adem, nggak gemrungsung. Dan percaya atau tidak mas yang kumaksud itu ternyata satu lokasi penempatan sama aku sekarang di West Borneo.

Aku juga sempet ngobrol banyak sama pak Leonardo. Beliau ini pegawai di kanwil Jogja. Aku sengaja menyapa duluan karena udah tiga kali ketemu, masa ngga nanyain? Pertama pas TeKaDe kedua TeKaBe terakhir ya wawancara ini. Aku malah diajak swa foto. Terus kubilang nanti ya pak kalau udah di bawah atap yang sama.

Beliau sempet nanya-nanya terkait formasi yang kulamar. Dan beliau ngajak pemanasan wawancara juga. Biar ngga gerogi katanya. Jadi kita simulasi di tempat antrian. Dan ternyata yang ditanyain bapaknya itu pas simulasi ngga ada yag keluar. Blas!

Setelah nunggu sekitar satu jam. Nomorku dipanggil. Pewawancaraku ada dua orang, Bapak dan Ibu. Mungkin usianya mendekati pensiun. Sejak pertama masuk aku sudah berusaha menguasai panggung (ceile). Pokoknya inget-inget teori observasi dan wawancara yang 4 SKS pas kuliah Psikologi. Intinyah? Bagaimana caranya biar interviewer merasa nyaman dengan kedatangan kita, jadi tentang memberikan kesan yang baik. Itu pokoknya.

Tipsnya gini, melangkahlah dengan pelan, anggukan pandangan kepada dua orang tersebut dengan senyum paling baik (udah kulatih ini) bukan senyum ngejek lho yah.

Memberikan salam, bisa selamat pagi, siang atau 'Assalamualaikum' (tentu harus diperhatikan apakah muslim atau bukan, kalau perempuan biasanya berjilbab, kalau laki biasanya ya kaya gitu lah) Pas aku Alhamdulillah muslim semua.

Untuk semakin memberikan kesan yang positif tambah dengan bersalaman. Kalau yang berkeyakinan tidak boleh dengan lawan jenis. Sebaiknya tangkupkan tangan terlebih dahulu dari jauh. Biar pewawancaranya ngga malu kalau tiba-tiba ngulurin tangan eh kita ngga mau. Piye?

Atur posisi duduk senyaman mungkin. Jangan banyak gerak. Karena bisa memberikan kesan negatif. Slenge-an. Pecicilan ngono lah.

Kaki jangan disilangkan. Karena berarti njenengan menyembunyikan sesuatu. Biasa aja, ngga usah goyang-goyang. Apalagi jegang. Saru.

Kedua tangan di atas paha. Jangan ditumpuk apa lagi di sakuin. Fatal.

Sebisa mungkin ada kontak Mata dengan pewawancara. Baik pas ditanya atau jawab. Itu artinya ente menghargai. Jangan kebanyakan kedip nanti dikira ganjen.

Jangan sampe minta diulang pertanyaannya. Itu artinya kagak dengerin.

Badan musti tegak, artinya anda punya prinsip dan kematangan dalam bekerja. Ojo kelalar keleler, kaya ayam potong.

Itu di atas sikap yang baiknya diperhatikan karena etitut atau solahbawa itu ada penilaiannya. Wawancara itu kompleks banget, hal sekecil apapun bisa dinilai. Termasuk baju musti digosok.

Di sesi ini Alhamdulillah aku dapet nilai yang cukup lumayan : 88,63. Nilai sempurnanya adalah 90. Di Jogja sendiri aku harus puas nangkring di nomor dua. Ngga nyangka sebenernya uhuk.. uhuk... pura-pura tawadhu.

Intinya satu, nikmati prosesnya aja!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Heri, Sebenarnya (Nggak) Pelupa

Hutan Ilusif: Gawai

Pengalaman Tes CAT Kemenkumham