H. Denny (Apakah Berarti Haji?)
Ini postingan saya yang pertama
di Blog yang sudah rawat sejak 2013. Saat-saat di mana banyak teriakan lagu
darah juang. Waktu masih jadi aktivis. Di mana produktivitas menulis tidak
terbendung, meskipun bukan hal yang penting.
Tulisan blog pertama di tahun
2019 ini saya dedikasikan untuk menulis tentang teman saya. Teman sekantor,
yang saya tuakan, atau (barangkali kami?).
Namanya H. Denny, putra asli
Kalbar. Dari suku mayoritas yang kaya akan kebudayaan, Dayak. Singkatan ‘H’ di
depan namanya jelas bukan berari Haji. Melainkan nama baptisnya, Herkulanus.
Nama ini termasuk yang paling pasaran, atau banyak digunakan bahkan di berbagai
belahan dunia.
Di Italia sana disebut Ercolano,
di Portugal Herculano, di Prancis Herculan, dan di negeri kita tercinta inilah sebutannya
Herkulanus. Herkulanus menurut beberapa sumber adalah orang yang secara alamiah
mendatangkan uang.
Tentu ada kaitan dengan teman saya
yang satu ini, bukan pula dapat diartikan dengan mata duit-an. Sebelum
mengabdikan diri sebagai ASN ia bekerja di sebuah Bank kenamaan. Lau berhenti.
Barangkali itu juga ada kaitannya.
Sedangkan namanya yang begitu masyhur
itu sedikit tidak berlaku, karena pada akhirnya saya atau kami memanggilnya Pak
Tua.
Asal-usul penyebutan Pak Tua
karena secara umur dia yang paling tua, meskipun kelakuannya ya ngga tua-tua
banget. Tapi, fakta bahwa dia tua adalah benar, tapi untuk kebijaksanaan atau
kematangan atau kedewasaan yang biasanya mengiringi usia itu masih bisa
diperdebatkan, atau harus diuji secara lebih mendalam. Agar bisa dibuktikan secara
ilmiah.
Banyak hal yang bisa kita
pelajari dari orang tua ini. Meskipun lebih banyak hal lainnya yang tidak
perlu.
Tentu saya akan memulainya dari
hal-hal yang tidak perlu.
Pak Tua satu ini diberikan bakat
yang luar biasa dalam hal nyinyir. Dia paling jago dalam menirukan orang lain
dan menertawakannya sembari ditambah komentar pedas. The King Of Roasting pokoknya.
Dia begitu paham detail, satu
saja kesalahan dari orang di sekelilingnya bisa dikonversikan menjadi sebuah
materi bullying verbal yang aduhai. Maka, apabila ada stand up di kantor sudah
tahu siapa pemenangnya.
Kemampuannya ini juga terkadang
dimanfaatkan dalam upaya building raport
dengan Warga Binaan Pemasyarakatan yang tidak bisa lepas dari hari-hari dan
kehidupannya. Usia memang tidak bisa dibohongi.
Sepatu Murah
Baru-baru ini juga ada kisah menarik
perihal orang tua ini, saat mengikuti Diklat di Ibukota dia membeli sepatu
Adidas Aseli seharga 1.300.000. Sepatu yang beratnya lebih ringan dari Hape
saya. Warnanya ciamik pokoknya joz. Tapi, setelah sepatu ini di bawa ke Kalbar
harganya menjadi murah dan turun drastis. Tidak lebih dari 300.000.
Maka jika saya ilustrasikan dalam
sebuah percakapan antara Pak Tua dengan Istrinya adalah sebagai berikut:
Mudik lebaran.
Mama: Pah, kok tumben sepatu barunya dilap terus? Sepatunya Mahal pasti.
(Sambil memasang aura dewa)
Pak Tua: Murah kok mah, ini karena kotor aja. (Sambil cemas dan mulai
deg-degan)
Mama : Tapi sepatu lainnya perlakuannya beda tuh. (Semakin curiga dan
sedikit ngegas!)
Pak Tua: Ya karena ini baru saja.
Mama : Emang berapa harganya Pah? (Ingin tahu banget)
Pak Tua : Cuma 300.000, Mah. (Sambil melirik dan berdoa : Semoga dia
percaya)
***
Sebulan sebelumnya.
Saya : Baru kah sepatunya, Bang?
Pak Tua : Buat kenang-kenangan dari Jakarta.
Saya : satu lebih itu kayaknya.
Pak Tua: Bapak ini tahu aja.
Saya : Ati-ati itu besok pulang.
Pak Tua : Tenang, saya kasih umpan dulu!!!
***
Setelah mudik Lebaran
Saya : Aman nggak itu sepatunya?
Pak Tua : Diinterogasi saya.
***
Loh, bagaimana bisa? Jelas bisa
kan. Karena yang menanyakan harganya adalah istri beliau, maka harga sepatu pun
menjadi turun tak terkendali. Maka, hukum ekonomi pun tidak akan berlaku.
Sungguh suami yang bijaksana-sini. Untuk
menang dalam pertempuran kita tidak harus menguasai banyak senjata, cukup tahu
kelemahan lawan saja. Dan Pak Tua sudah lulus bab ini.
Toleransi
Selain bab di atas, yang saya
hormat betul adalah mengenai toleransi. Pak tua ini sangat sering mengingatkan
saya untuk sholat.
Kurang lebih seperti ini
ilustrasinya :
Lokasi : Di Dodik Singkawang
Waktu : Setiap Jam Sholat
Tempat Pasti : Asrama menginap
Pak Tua : Sholat yuk Pak, (ucapnya, itu gaya khas dia mengingatkan.)
Saya : Ayo, Bapak yang lebih tua jadi Imam ya. (Ini cara saya agar cair)
Pak Tua : Saya sudah tadi Pak, (Ini cara dia menolak, dengan bahasa
yang halus. Kadang-kadang juga dengan alasan sakit perut, atau mau kencing
dulu, atau mau ke mana dulu)
Saya : Oalah, iyakah? Lain kali bareng, Pak. Biar rame.
Pak Tua : Insya Allah (Ini cara dia menjawab, dan saya tertawa)
Hal-hal seperti ini sangat sering,
bukan hanya sekali atau dua kali. Begitu juga sebaliknya saat dia ibadah Mingguan
saya juga sering melontarkan hal yang sama.
Dan tulisan ini adalah cara saya
mengenang beliau,
Tabik.

Komentar