Tentang Siapa Adit (Untukmu yang Sering Menilai Penampilan)




Namanya adit, ini jelas bukan nama samaran. Nama asli, teman kerja saya. Berasal dari Aceh keluarga ningrat tujuh turunan. Dan dia bukan turunan ke delapan.


Adit sedang menginjak usia dewasa awal, ini menurut usia perkembangan di buku Psikologinya Santrock. Ibarat pepaya sudah mulai gemading. Sebentar lagi matang, kalau engga keburu di embat kampret tentu saja.

Adit adalah gambaran dari kehidupan yang (mungkin) dicita-citakan oleh pemuda dusun, muda, sedikit kaya, banyak simpanan, sekali lirik oke sajalah, dan wajahnya ya masih bisa lah. Ibarat ujian dia nggak remidi. Mepet batas.

Kemampuannya seperti Casanova. Tahu nggak? Saya kasih cerita dikit tentang Mas Casa yang melegenda. Mas Casa itu seorang petualang cinta, ahli soal perempuan, hidup 2 abad silam. Sarjana hukum di usia 17 tahun, menguasai matematika, kimia, juga kedokteran. Lengkapnya cari sendiri di google.

Terus bagian mananya yang mirip? Oke mari kita bahas satu demi satu. Kedokteran? Jelas tidak. Matematika? Apalagi, lha dia kemampuan hitungnya ngga begitu meyakinkan. Kalau kimia? Ini mendekatilah. Iya soalnya Adit terbiasa mencampuradukan cairan kimia, yang dibeli di warung ijo dekat ringroad utara Yogyakarta. Cairan yang membuatnya mendekati kesadaran sebagai makhluk Tuhan.

Lalu dimana yang mirip dengan Adit? Ya, kemampuannya soal perempuan. Dia yang lulusan S-1 psikologi ini benar-benar mengamalkan ilmunya dalam hal memahami (red : Memperdaya) perempuan. Kemampuan bahasanya sungguh berbahaya (lamis).

Itu gambaran singkat tentang Adit, selanjutnya ke kehidupannya sehari-hari. Adit dikenal di kalangan kami sebagai distributor film-film edukatif. Dia juga sangat ringan tangan memberikan pada siapa saja yang membutuhkan untuk diambil pelajaran.

Untuk soal ibadah, hmmm. Tahulah. Dia sangat jarang terlihat hampir tidak pernah sholat. Juga ibadah lainnya. Pernah suatu kali kami mendapatkan pelatihan ESQ dan pada sesenggukan semi sedih karena disuruh istighfar. Adit berbeda, ia sesenggukan karena nggak ingat bacaan istighfar.

Satu lagi soal kata-katanya, Adit itu kerap mengeluarkan kata-kata makian, kotor dan sejenis itulah. Hafal mati dunia binatang. Ibarat dosa berbau, tentu baunya sudah memenuhi seluruh penjuru dunia.
Tapi benarkah Adit demikian?

Nah inilah yang sebenarnya akan saya ceritakan pada majelis pembaca yang budiman. Kita tentu sudah tidak asing dengan istilah don’t judge book from the price. Maka apabila kita membaca cerita di atas tentu ia adalah orang yang harus cepat di taubatkan. Namun, itulah ternyata yang sengaja ia tampilkan pada orang.

Jadi, ada tugas kehidupan berat yang sedang dia jalankan. Apabila dia memberikan contoh yang baik, tentu dia bisa saja dan akan dielu-elukan oleh banyak orang. Tapi ia adalah paradoks, memilih jalan berbeda. Ia lebih ingin dikenal sebagai orang yang tidak baik, agar hanya orang lain tidak meniru apa yang dilakukannya.

Itu berat, Dilan nggak bakal kuat. Adit merelakan dirinya di posisi itu, menjadi contoh yang salah dan dia menyadarinya. Saya melihat dia bukan orang sembarangan dalam hal ini.

Saya pernah membaca kisah wali Allah di zaman Sultan Murod. Di buku hariannya Sang Sultan berkisah ketika pada suatu hari mengajak pengawalnya untuk pergi melihat rakyatnya. Di suatu lorong antar rumah yang sempit, Sultan menemukan laki-laki yang meninggal dan dibiarkan begitu saja oleh orang yang lewat.

Sang Sultan yang sedang menyamar itu mencari tahu, dari orang-orang yang lewat. Ternyata pria yang meninggal itu dikenal sebagi pemabuk dan tukang zina. Singkat cerita, dibawalah laki-laki tadi ke rumahnya. Ketika sampai rumah, Sang Sultan bertanya pada istri orang yang meninggal tersebut.

Sang Istri menjawab bahwa yang dilakukan suaminya selama ini justru berkebalikan dari yang masyarakat lihat. Suaminya setiap hari ke tempat lokalisasi adalah untuk memberikan para perempuan tuna susila uang dan menyuruhnya pulang, agar tidak ada orang yang terjebak dalam dosa zina. Sedangkan kebiasaannya membeli minuman adalah agar tidak ada orang yang kemudian membeli di warung tersebut. Sementara minuman yang dibelinya ia buang di WC.

Sang istri pernah mengingatkan bahwa tidak akan ada yang mau memakamkan apabila suaminya meninggal. Namun, Si suami justru berkata, pemakamanku nanti akan dihadiri oleh Sultan dan ahli agama di kerajaan.

Menangislah Sang Sultan, dan mengatakan siapa dirinya sebenarnya.

Lanjut pada Adit, itulah kecurigaan saya padanya. Apa yang dia tunjukkan bukan dia yang sebenarnya. Meskipun dia sering berkata kasar tapi saya yakin hatinya beristighfar. Maka dosanya seketika diampuni berganti pahala penuh kemuliaan karena niat kata kasarnya untuk mengingatkan pada yang mendengarkan bahwa berkata kasar dapat menyakiti orang lain.

Merugilah orang yang menilai Adit dari yang ia lihat.

Selanjutnya perkara sholat, saya tidak percaya bahwa dia tidak sholat. Bahkan saya curiga dia tidak pernah putus sholat malam. Buktinya wajah Adit itu terlihat orang yang sering bangun di malam hari, dan bersujud di hadapan Tuhan. Apabila dia sering bilang bangun kesiangan itu karena setelah sholat malam ia lanjutkan dengan sholat subuh dan barulah tidur untuk memanipulasi pandangan orang awam.

Agar dia kelihatan tidak sholat, dan orang lain menilai dia tidak sholat. Padahal saat dia melihat orang lain menilai itu, hatinya bersorak gembira karena ibadahnya yang mesra dengan Tuhan Pencipta alam tidak terusik. Dia bahagia karena sudah tidak peduli lagi dengan penilaian manusia yang fana.

Maka, orang yang mengira ia tak pernah sholat, merugilah, karena sudah berprasangka buruk. Dan dia tetap berbahagia dengan pandangan orang lain.

Mau ditambahkan lagi agar anda sadar siapa Adit? Saya rasa cukup. Itulah adit, iya dia yang kamu sangka begini ternyata begitu. Sungguh, bagaimana rasanya menjadi orang yang seikhlas Adit?

Nggak usah dicoba, kamu nggak bakal kuat, biar Adit aja!
      

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Heri, Sebenarnya (Nggak) Pelupa

Hutan Ilusif: Gawai

Pengalaman Tes CAT Kemenkumham