Burhan : The Unpredictable



Awalnya saya ingin menulis yang judulnya Burhan : The Unpredictable Man, tapi setelah dipikir-pikir lagi nggak pas.  Kesannya kalau “Man” kan identik dengan maco dan laki banget. Kayak terlalu memaksakan. Nah kalau di sandingkan dengan nama Burhan nanti dikira pencemaran nama baik. Nggak pas blas.

Terus judul lainnya, Burhan : The Unpredictable Boy. Tapi kesannya gimana gitu, lha dia saja kan sudah tua sebenarnya. Sudah 26 tahun. Mungkin itu…… nya. Kalau kata Santrock ahli psikologi perkembangan, usianya masuk kategori dewasa awal. Meskipun aslinya usia mental dan perkembangannya saya tidak tahu apakah ada palung pemisah atau baik-baik saja. Intinya kan berarti sudah bukan “Boy” lagi.

Akhirnya setelah berpikir cukup singkat saya memutuskan untuk member judul seperti di atas. Tanpa embel-embel Man atau Boy, biar nanti siding pembaca yang memutuskannya. Tentu dari penjabaran yang akan saya sampaikan di bawah ini.

Namanya Burhan, tampilannya (berusaha) klimis. Mungkin dia keramas menggunakan pomade. Minyak (?) rambut yang elektabilitasnya sedang tinggi dua tahun ini. Sudah mengalahkan brisk, atau bahkan urang aring yang berwarna hijau dan baunya gitu deh itu. Urang aring ibarat rajanya minyak rambut, saya selalu memakainya saat SD dulu.

Kembali ke Burhan. Saya bingung memulai dari mana, apakah dari masa kecilnya yang penuh liku. Tapi tidak cocok dan kurang menjual.

Mungkin dari sini, dilihat dari rantai makanan barangkali dialah yang posisinya paling rendah. Ingat kan istilah rantai makanan? Pelajaran IPA sewaktu SD dulu. Dia menjadi incaran pemburu, menjadi santapan siapa saja.

Ya, dalam CPNS yang baru masuk di kantor kami, Burhan lah yang sangat sering di bully. Mungkin kalau dia tidak tegar dan kuat seperti Dilan saya yakin sudah berakhir di kampungnya. Resign dari CPNS. Untuk Tuhan menganugerahinya ketulusan dan keikhlasan hati untuk di Bully.

Segala hal yang menempal dalam diri Burhan berujung pada Bullying. Rasa-rasanya hidup memang tidak adil. Dan aktor intelektual di balik itu semua ada beberapa oknum, Pertama Pak Tua Denni, Kedua Adit, Ketiga Pak Roni yang baru berulang tahun, dan yang terakhir (kadang-kadang) saya sendiri.

Awalnya, saya sendiri tidak tahu mengapa hal naas itu harus diterimanya di saat usia yang sudah tidak muda. Bahkan Bagas pernah bilang “Entah kenapa kalau lihat Burhan bawaannya pengin Bully”. Bagas itu anak kemarin sore tapi berani bilang gitu sama Burhan, mungkin karena dia anak UGM.

Pertama karena pembawaan Burhan, yang kalem dan cenderung unik (untuk tidak dikatakan sebagai nyeleneh). Kalau dari tipologi kepribadian dia termasuk yang introvert dan cenderung melankolis. Orang yang cenderung tertutup dan suka menyendiri. Ini juga yang membuat anak-anak yang biadab itu (termasuk saya) gemar membully.        

Kedua karena burhan jarang melawan. Sejak pertama kami memproklamirkan diri sebagai CPNS yang bermarkas di Rumah Dinas, Burhan jarang melawan. Dia lebih suka adem ayem walaupun di Bully. Atau mungkin dia menikmatinya? Entahlah. Mungkin hipotesisnya harus didukung data yang kuat dan mumpuni.

Yang ketiga, dan terakhir adalah karena peringkatnya dari hasil pengumuman CPNS. Dia secara hirarki berada jauh mendekati jurang degradasi. Bahkan dia sendiri tidak percaya kalau namanya masuk dalam jajaran CPNS yang diterima. Maka, alhasil dia harus menerima semua yang sudah digariskan oleh Tuhan.

Meskipun demikian, Tuhan menciptakan manusia tidak hanya dengan segudang potensi untuk di Bully. Akan tetapi juga bakat yang melekat. Yah, Burhan selain mempunyai bakat untuk di Bully juga mempunyai bakat khas orang-orang introvert : Melukis. Karya-karya besarnya dipamerkan (tanpa maksud riya) di akun instagramnya. Hanya menunggu waktu hingga ia akan melakukan pameran tunggal galeri.

Selain itu, ia dianugerahi Tuhan (kalau boleh saya menyebutnya) bakat dalam bidang perkomputer-leptop-dan internet-an. Mungkin barangkali, kayaknya dia sedikit banyak seperti Steve Job saat muda. Steve Job itu yang nggak bisa gambar apel itu, sehingga gambarnya tidak utuh.

Atau dari sudut lain, dia seperti Pak Filantropis Bill Gates. Saya sebenarnya khawatir menggunakan istilah yang asing. Karena tahu fanser itu kurang tahuan orangnya.

Yang harus diwaspadai sebenarnya dari Burhan, dia sedang menyusun rencana untuk menggulingkan para musuh-musuh yang berada dalam selimut itu. Dia mulai melebarkan sayap di kanwil, menjadi teknisi itu hanyalah kedok belaka. Dia (saya yakin) sudah mengantongi nama-nama tukang bully dan daftar dosa yang dilakukan padanya. Detail hingga hari, jam, menit, hingga detik.

Kelak nama-nama itu bila usahanya berhasil dalam membangun jejaring akan dibuangnya satu persatu ke seantero nusantara. Sembari dia tersenyum dan mengirimkan pesan singkat : Piye? Enak Jamane sopo?

Itulah Burhan.
Saya ingat suatu kali Adit yang seringkali membullinya mengetahui bahwa Burhan pernah menerbitkan sebuah buku yang berjudul “Mata-mata Yahudi”. Pada saat itu Adit berkata ‘Baru kali ini aku ngakuin kamu sebagai temen han!’.

Maka kita tunggu tanggal mainnya, kapan adit akan pindah ke Bapas Bau-bau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Heri, Sebenarnya (Nggak) Pelupa

Hutan Ilusif: Gawai

Pengalaman Tes CAT Kemenkumham