Pengalaman CPNS Bag 2



Tahap wawancara ini biar bagaimanapun tidak bisa dianggap remeh. Orang yang biasanya pinter pol. Bisa jadi planga plongo karena gerogi. Jadinya jawaban ngasal wal hasil wassalam.

Sebelum ke topik ini aku mau berbagi tentang inseg (insight/hikmah) yang kudapet. 😎😎😎

Rodo serius sitik. Jadi, sebelum ke wawancara dan kita diterima atau ditolak di endingnya mending rubah pola pikirnya dulu.

Menurutku dari semua yang udah terlewat ada hal yang patut disukuri. Apa? Ya! Proses. Proses dalam setiap tahapan tes mempunyai keseruan tersendiri. Ada ke aku an yang di apgred. Ada teman baru, ilmu baru, wawasan baru, dan pengalaman mengindera hal-hal baru. Itu semua ada dalam proses.

Seperti orang yang lapar, mana yang lebih dinikmati? Liat makanan - ambil - kunyah sambil ngiler.  Apa kenyang? 😨😨

Yo yang dinikmati prosesnya kan? Kenyang itu kan bonus dari proses. Kalau masih laper yo tinggal makan lagi. 

Sama dengan Tes Ce Pe eN eS ini. Yang harusnya dinikmati ya prosesnya bukan tujuannya. Ketrima atau tidak itu bonus. Kalau orientasinya hanya tujuan atau ketrima maka segala cara akan menjadi halal. Haa nek wis ngene ujung-ujunge yo ngga bakal mberkahi. Wong kita kalau laper di suruh milih daging opo tiwul penginnya yang enak kok walaupun sama sama bikin  kenyang. Ya prosesnya kan?

Jadi dalam doa-doamu wahai umat manusia,😇😇😇 uapkanlah "Ya Allah jika memang pekerjaan ini baik dan aku bisa mengemban amanah maka jadikan aku orang yang bertanggung jawab. Tapi (iki sing rodo abot) jika memang aku tidak bisa memegang amanah kelak, berikan aku hati yang lapang untuk setiap jalan yang sudah Engkau tetapkan agar aku menjadi hamba yang tetap bersyukur."

Jadi yo hati kita ayem. Ilmu Nrimo iku cen angel-e. Perlu dilatih. Aku sendiri ya masih belajar. Itulah kenapa aku nulis blognya sebelum pengumuman tanggal 9 November nanti.

Jadi biar hasilnya seperti apa ya udah latihan legowo mulai sekarang. Pie?

Nek bicara ilmiah, seorang pakar psikolohi mbah buyut Roger pernah ndawuh. "Kalau ideal self kita terlalu tinggi dan berjarak dengan real self ya bakalan stres". Bahasa sederhanane gini, kalau harapan kita dterima terlalu tinggi tapi nanti gagal yo kita bakal stres. Terus apa ngga boleh berharap? Ya boleh, dengan memaksimalkan prosesnya. Belajarnya. Bukan di tujuannya.

Kaitan antara ekspetasi yang tinggi dengan proses di tiap tahapan tes juga ada. Apa? Salah satunya kecemasan, adrenalinnya terlalu berlebihan karena faktor tadi itu. Kalau bisa kita kasih sugesti : lolos yo ben, ora yo ra popo. Jadinya lebih sante. Ngga terbebani. Tapi tetep belajar lho yah.

WAWANCARA. Aku kebagian hari pertama. Lokasi yang tadinya di Jakarta pindah ke daerah, atau tiep kanwil. Karena 90% peserta dari luar Jakarta. Mesakne tho? Udah mahal beli tiket nanti ngga diterima. Gitu mungkin. 

Aku sendiri di tempatnya pak Sultan. Alias negeri ngayogyakarta. Kanwil Kemenkumhamnya terletak deket sama kosku, lha satu kelurahan je. Lokasinya di jalan gedong kuning, kanan jalan kalau dari arah utara menuju pasar legendaris Kotagede.

Aku sendiri tiba di lokasi sudah agak telat meskipun sebenarnya belum mulai. Soalnya udah pada dateng semua.

Pada awalnya kita semua dicek satu persatu apa ada tato atau tidak. Tahap ini kita dipanggil  untuk masuk ruangan dan di sana ada dua petugas.

'Ini apa mas?' tanya petugas penuh curiga, sambil menunjuk di salah satu bagian kakiku. setelah aku disuruh gulung clana dan lengan baju.
'Itu bekas luka pak' jawabku kalem sambil mesem-mesem.
'Oh. begitu..' nampaknya terlihat percaya sambil angguk angguk.
'iya, dulu saya korengan pak'
Jadi korengpun akan dicek lho. 

Setelah pengecekan koreng selesai. Eh tato. Kita antre untuk mengisi daftar riwayat pekerjaan. Aku waktu itu ngisi enam perusahaan. Mulai dari pas masih di Alfamart jadi pramuniaga, warung kopi sebagai server, guru, ngasisteni psikolog di lab kampus, manajer, dan terakhir kepala HRD. Niatnya biar banyak kalau dilihat. 

Bener lho iki, pengalaman kerja punya nilai tersendiri. Pas dulu masih jadi kepala HRD, salah satu yang bakal jadi pertimbangan buat calon karyawan ya pengalaman, baik kerja maupun organisasi. Karena dengan adanya pengalaman, calon karyawan lebih mudah beradaptasi dalam bekerja.

Setelah selesai nginput data kita semua masih harus antre lagi nunggu panggilan buat wawancara. Dan kelihatan banget yang mukanya pada tegang. Deg-degan gitu lah.😥 Aku respek sama mas yang di sebelahku. Karena dia nyempetin buat sholat dhuha dulu. Dan keliatannya juga adem, ngga gemrungsung.

Aku juga sempet ngobrol banyak sama pak Leonardo. Beliau ini pegawai di kanwil Jogja. Aku sengaja menyapa duluan karena udah tiga kali ketemu, masa ngga nanyain? Pertama pas TeKaDe kedua TeKaBe terakhir ya wawancara ini. Aku malah diajak swa foto. Terus kubilang nanti ya pak kalau udah di bawah atap yang sama.

Beliau sempet nanya-nanya terkait formasi yang kulamar. Dan beliau ngajak pemanasan wawancara juga. Biar ngga gerogi katanya. Jadi kita simulasi di tempat antrian. Dan ternyata yang ditanyain bapaknya itu pas simulasi ngga ada yag keluar. Blas!

Setelah nunggu sekitar satu jam. Nomorku dipanggil. Pewawancaraku ada dua orang, Bapak dan Ibu. Mungkin usianya mendekati pensiun. Sejak pertama masuk aku sudah berusaha menguasai panggung (ceile). Pokoknya inget-inget teori observasi dan wawancara yang 4 SKS pas kuliah Psikologi. Intinyah? Bagaimana caranya biar interviewer merasa nyaman dengan kedatangan kita, jadi tentang memberikan kesan yang baik. Itu pokoknya.

  1. Melangkahlah dengan pelan, anggukan pandangan kepada dua orang tersebut dengan senyum paling baik (udah kulatih ini) Bukan senyum ngenyek lho yah.
  2. Memberikan salam, bisa selamat pagi, siang atau 'Assalamualaikum' (tentu harus diperhatikan apakah muslim atau bukan, kalau perempuan biasanya berjilbab, kalau laki biasanya ya kaya gitu lah) Pas aku Alhamdulillah muslim semua.
  3. Untuk semakin memberikan kesan yang positif tambah dengan bersalaman. Kalau yang berkeyakinan tidak boleh dengan lawan jenis. Sebaiknya tangkupkan tangan terlebih dahulu dari jauh. Biar pewawancaranya ngga malu kalau tiba-tiba ngulurin tangan eh kita ngga mau. Piye?
  4. Atur posisi duduk senyaman mungkin. Jangan banyak gerak. Karena bisa memberikan kesan negatif. Slenge-an. Pecicilan ngono lah.
  5. Kaki jangan disilangkan. Karena berarti njenengan menyembunyikan sesuatu. Biasa aja, ngga usah goyang goyang. Apalagi jegang. Saru.
  6. Kedua tangan di atas paha. Jangan ditumpuk apa lagi di sakuin. Fatal.
  7. Sebisa mungkin ada kontak Mata dengan pewawancara. Baik pas ditanya atau jawab. Itu artinya ente menghargai. Jangan kebanyakan kedip nanti dikira ganjen.
  8. Jangan sampe minta diulang pertanyaannya. Itu artinya kagak dengerin.
  9. Badan musti tegak, artinya anda punya prinsip dan kematangan dalam bekerja. Ojo kelalar keleler, kaya ayam potong.
Itu di atas sikap yang baiknya diperhatikan karena etitut atau solahbawa itu ada penilaiannya. Wawancara itu kompleks banget, hal sekecil apapun bisa dinilai. Termasuk baju musti digosok. 😅😅😅

Di sesi ini Alhamdulillah aku dapet nilai yang cukup : 88,63. Nilai sempurnanya adalah 90. Di Jogja sendiri aku harus puas nangkring di nomor dua. Ngga nyangka sebenernya uhuk.. uhuk... pura-pura tawadhu.



     
Oya..
Daftar Pertanyaan yang kubuat dan yang keluar ada di halaman selanjutnyah 😎


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Heri, Sebenarnya (Nggak) Pelupa

Hutan Ilusif: Gawai

Pengalaman Tes CAT Kemenkumham